Pasukan KKM 46 UNIBA Menyulap Sampah Menjadi Paving Block

BANTEN72 – Sampah merupakan masalah hampir di setiap wilayah, baik desa maupun perkotaan. Untuk mengatasi masalah sampah tersebut, Kelompok 46 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Bina Bangsa (UNIBA) membuat alat pencacah sampah limbah plastik berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG) di Desa Sidamukti Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Pandeglang yang berfungi untuk menghaluskan limbah plastik yang akan dijadikan paving block.

Ide kreatif mengubah limbah plastik, menjadi paving block dan bata ramah lingkungan ini tentu membantu mengurangi sampah dan menjadikannya barang yang bermanfaat selain itu tentu bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Alat teknologi tepat guna tersebut tidak sulit untuk dibuat dengan bahan baku yang mudah ditemukan. Alat tersebut juga tidak memerlukan modal besar dan dapat dilakukan oleh siapapun. “Kami mengedukasi warga, mulai dari memilih dan memilah sampah dengan benar, mengolah limbah plastik, hingga mencampurnya dengan oli bekas dan pasir. Dan Hasilnya Paving block yang bisa dipakai untuk jalan setapak, taman, atau bahkan area budidaya,” jelas Hadi Nurhadi, perwakilan dari tim KKM kelompok 46 UNIBA.

Baca juga:  Karangan Bunga dari Gubernur Banten dan Rektor Unma Terpasang di Rumah Duka Almarhum Tryana Sjam’un di Puri Salakanagara

Ia menambahkan, ini adalah upaya kami untuk mengubah sampah menjadi barang yang berguna dan bermanfaat, di mana sesuatu yang tak berguna kini memiliki nilai estetika dan fungsional yang tinggi.

“Kami juga ajak warga melihat sampah bukan cuma kotoran, tapi sumber pendapatan atau penghasilan sampingan. Ada rupiah yang bisa kita hasilkan, Potensi penjualan eco-paving ke luar desa bisa menghemat pengeluaran dalam pembangunan infrastruktur desa. Selain itu tentu jika dijalankan dengan serius bisa membuka peluang ekonomi baru yang menjanjikan. Warga yang telah dilatih kini memiliki keahlian baru yang bisa menjadi sumber penghasilan,” ujar Hadi.

Baca juga:  Badan Kesbangpol Provinsi Banten Tinjau Sejumlah TPS

Menurut Hadi, program tersebut sebagai langkah awal dalam membangun pondasi rantai ekonomi sirkular di tingkat desa. Mahasiswa KKM kelompok 46 UNIBA bersama warga menginisiasi sistem pengumpulan sampah terpilih dari pesisir pantai, rumah ke rumah. Disamping itu juga secara aktif menampung oli bekas dari para nelayan. Limbah-limbah ini, yang sebelumnya tidak bernilai ini menajdi bahan baku yang siap diolah.

Kepala Desa Sidamukti Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Pandeglang  Karsidi, SH merasa terbantu dan berterimakasih dengan adanya  KKM 46 UNIBA. Karena persoalan sampah adalah persoalan yang sangat mendesak di setiap desa termasuk desa Sidamukti. Persoalan ini tidak hanya merusak keindahan desa, tetapi juga membahayakan kesehatan warga. “Mudah-mudahan dengan adanya KKM 46 UNIBA dengan ide kreatifnya ini sebagai solusi dari permasalahan sampah yang ada di lingkungan Desa Sidamukti. Kegiatan KKM ini juag membuka kesadaran pentingnya menjaga lingkungan bagi masyarakat Desa Sidamukti,” kata Karsidi.

Baca juga:  Peran Aktif Orangtua Penting Memperkuat Proses Pendidikan Anak di Rumah dan Sekolah

Program KKM 46 UNIBA tidak hanya meninggalkan infrastruktur fisik, tetapi juga bibit-bibit kemandirian dan semangat inovasi. Desa Sidamukti kini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dapat mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang emas. Inilah wujud sejati dari “Desa Progresif”; desa yang berpikir maju, bertindak kreatif, dan mampu menciptakan solusi berkelanjutan dari sumber daya yang ada.

“Semoga kegiatan KKM 46 UNIBA di Desa Sidamukti ini dapat menginspirasi untuk berani melihat sampah sebagai potensi. Mengubah limbah menjadi karya yang bermanfaat dan bersama-sama menciptakan masa depan yang lebih bersih dan sejahtera,” pungkas Hadi.*

Komentar