BANTEN72 – Belum lama ini, kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 51 Universitas Bina Bangsa (Uniba) mengadakan seminar dengan tema “Implementasi Teknologi Biofilter sebagai Solusi Efisien dalam Menyediakan Air Bersih untuk Masyarakat berlangsung Desa Teluklada, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang.
Kegiatan KKM 51 Uniba mempresentasikan inovasi alat penyaring air (biofilter) yang dirancang sebagai solusi efisien atas permasalahan keterbatasan pengadaan air bersih di Desa Teluklada, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, berdasarkan hasil wawancara mendalam dan diskusi bersama masyarakat setempat.
Permasalahan air bersih di Desa Teluklada cukup kompleks, mulai dari penurunan kualitas air akibat perubahan iklim, seperti kemarau panjang yang memaksa warga mengambil air dari sungai asin, penurunan debit air tanah karena desa bergantung pada hujan, hingga kontaminasi sumber air akibat penggunaan lahan yang tidak terkontrol seperti perubahan fungsi lahan menjadi empang atau area pembuangan limbah rumah tangga.
Upaya pemerintah dan masyarakat seperti pengadaan sumur bor atau embung masih kurang efektif karena banyak menghasilkan air asin atau berbau besi (ferrit), sementara belum ada teknologi terjangkau yang dapat diterapkan secara mandiri oleh warga.
Biofilter yang dikembangkan oleh KKM 51 menggunakan media filtrasi alami berupa arang aktif, pasir silika, dan sabut kelapa yang disusun vertikal dalam pipa PVC dengan sistem lateral-inlet-upflow.
Alat ini dirancang melalui tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan/perakitan, dan uji coba hasil. Untuk uji coba dilakukan di Posko KKM Kampung Sadar RT 02/RW 02, di mana sumber air sumur setempat tercemar akibat berdekatan dengan area pembuangan limbah. Hasilnya, air yang sebelumnya berbau, keruh, mengandung partikel kasar seperti pasir, lumut, bahkan jentik-jentik, berubah menjadi lebih jernih dengan rasa normal secara organoleptik dan tanpa kebocoran alat sama sekali.
Biofilter tersebut efektif menghilangkan bau, mengurangi kekeruhan, dan menyaring partikel kasar sehingga air layak digunakan untuk kebutuhan non-konsumsi, sekaligus mudah dibuat dan direplikasi oleh masyarakat.
Respon masyarakat terhadap biofilter sangat baik, Rahmat selaku Ketua RW 04 secara langsung meminta kepada KKM 51 Uniba untuk membuatkan biofilter seperti di lingkungan RW 04.
Ketua BPD, Samsul menanggpi soal alat biofiler dengan pertanyaan, apakah kecepatan air dari sanyo akan sama dengan output air yang dihasilkan, dan apakah media filter bisa dikembangkan supaya lebih efisien?”
Dari Tim KKM menjelaskan bahwa, kecepatan air dari sanyo dapat sama dengan output jika panjang wadah vertikal 4 inci diperpanjang menjadi 3 meter dengan setiap 1 meter diisi satu jenis media filter, bahkan dapat dikembangkan menjadi tiga wadah vertikal terpisah agar penyaringan lebih optimal.
Warga lain, Asep selaku Ketua RW 01 juga menanyakan, sejauh ini alat biofilter sudah diteliti di dusun mana? Dan kenapa dari banyak permasalahan di Desa Teluklada hanya permasalahan air bersih yang diangkat? Bagaimana air asin dari sungai bisa dimanfaatkan untuk irigasi pertanian?”
Tim KKM menjelaskan, bahwa KKM 51 Uniba fokus pada permasalahan air bersih karena merupakan kebutuhan pokok setiap manusia, terutama untuk keperluan non-konsumsi seperti mandi dan mencuci.
Penelitian ini diawali di Posko KKM Kampung Sadar RT 02/RW 02 yang memiliki permasalahan kualitas air cukup kompleks. Untuk permasalahan air asin, biofilter dapat dikembangkan lebih lanjut dengan media khusus sesuai referensi penelitian sebelumnya, namun karena keterbatasan waktu KKM, alat ini dijadikan langkah awal bagi keberlanjutan pengelolaan air bersih di desa.
Seminar ini menghadirkan narasumber utama Putri Nuraida dan Muhamad Jalaludin selaku penanggung jawab bidang Teknologi Tepat Guna. Keduanya memaparkan materi secara mendalam mulai dari latar belakang, proses perencanaan, teknis perakitan, hingga hasil uji coba alat di lapangan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Teluklada beserta perangkat desa, para Ketua RW dan RT se-Teluklada, Ketua BPD beserta anggotanya, serta masyarakat dan pemuda setempat dengan total 45 peserta. Acara berlangsung di Balai Desa Teluklada pada Kamis, 7 Agustus 2025 pukul 09.00–11.30 WIB dalam suasana interaktif, penuh diskusi, dan diwarnai komitmen bersama untuk menerapkan teknologi tepat guna.
Keberhasilan seminar ini tidak hanya terletak pada inovasi teknologi yang dibagikan, tetapi juga pada keterlibatan aktif warga yang siap mereplikasi dan mengembangkan biofilter ini di wilayah masing-masing demi tercapainya akses air bersih yang berkelanjutan di Desa Teluklada dan sekitarnya.*








Komentar