KKM 53 Gagas Budidaya Maggot di Desa Pangkalan

BANTEN72 – Untuk menjawab persoalan lingkungan akibat tidak adanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Pangkalan, mahasiswa Kelompok KKM 53 Universitas Bina Bangsa menggagas program budidaya maggot sebagai alternatif pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.

Program ini diwujudkan dalam bentuk penyuluhan dan penyerahan alat budidaya maggot yang dilaksanakan pada Minggu, 3 Agustus 2025 di Kantor Desa Pangkalan, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Mulyadi, para RT, RW, serta tokoh masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Mulyadi menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa. “Saya sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa. Program ini sangat bermanfaat, apalagi sebelumnya kami pernah mencoba budidaya maggot, tetapi belum berjalan optimal. Semoga kali ini bisa berhasil dengan pendampingan,” ujarnya.

Baca juga:  KKM Uniba 2025, diikuti oleh 2.047 mahasiswa dari berbagai Fakultas

Penyuluhan disampaikan oleh Ghifari dan Rijal, selaku penanggung jawab program dari bidang sosial. Dalam penyuluhan tersebut dijelaskan, bahwa ide ini muncul setelah mengetahui mayoritas warga masih membakar sampah karena tidak adanya sistem pengelolaan yang memadai. Budidaya maggot pun dipilih sebagai solusi alternatif yang tidak hanya mengatasi limbah, tetapi juga membuka peluang usaha.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Tito Parta Wibowo, M.Pd, turut mendukung inisiatif tersebut. “Budidaya maggot untuk skala rumahan merupakan langkah inovatif dalam mengurangi sampah organik. Hasil ternaknya pun bisa dijadikan pupuk. Saya berharap pemerintah desa mendukung penuh program ini. Kami sebagai fasilitator siap memberi masukan dan saran untuk keberhasilan program ini,” jelasnya.

Baca juga:  Mahasiswa KKM UNIBA Kelompok 16, Gelar Les Hijaiyah untuk Anak-Anak di Desa Tegalsari

Materi penyuluhan meliputi pengenalan maggot, cara budidaya, manfaat ekonomi, serta dampak positif terhadap lingkungan. Peserta juga diajak memahami bagaimana satu siklus maggot dapat membantu mengurangi limbah dapur rumah tangga secara langsung.

Puncak kegiatan ditandai dengan penyerahan alat dan bahan budidaya kepada perwakilan RW sebagai bentuk komitmen nyata pemberdayaan masyarakat. “Kalau setiap RW bisa membudidayakan maggot lalu menyebarkan ke tingkat RT dan warga, maka pengelolaan sampah bisa dilakukan langsung dari rumah,” jelas Ghifari.

Baca juga:  1.224 Calon Jemaah Haji Pandeglang Ikuti Manasik Haji di Cas Waterpark

Kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung budidaya maggot dan diskusi interaktif bersama warga. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Warga berharap ada pendampingan berkelanjutan agar budidaya bisa berhasil dan diterapkan luas.

“Melalui kegiatan ini, KKM 53 tak hanya menghadirkan solusi nyata atas persoalan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan kesadaran lingkungan bagi masyarakat Desa Pangkalan,” pungkas Rijal.*

Komentar