Mengabulkan Keinginan Nasirun yang Belum Sempat Terwujud

BANTEN72 – Berpulangnya Nasirun secara mendadak pada 1 Agustus 2026 meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni rupa Indonesia. Sebagai seniman besar Indonesia, berita kepergian Nasirun mengundang perhatian banyak kalangan. Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya unit Galeri Nasional Indonesia merespons dengan mempersembahkan sebuah pameran sebagai bentuk penghormatan untuk Nasirun, sekaligus ikhtiar dalam mengabulkan salah satu keinginannya yang belum sempat terwujud, yaitu berpameran bersama “para guru”-nya. Inilah Pameran Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru.

Dituturkan Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, “Pameran ini bukan semata-mata untuk mengenang Nasirun sebagai seniman penting dan berpengaruh, tetapi juga untuk menjaga agar gagasan, perjalanan, dan warisannya terus hadir dalam percakapan seni rupa Indonesia hari ini. Melalui perjumpaan karya dan berbagai perspektif dalam pameran ini, kita membuka ruang bagi dialog dan kolaborasi yang dapat memperkaya dinamika seni rupa Indonesia. Kami percaya, ekosistem seni tumbuh ketika ruang-ruang perjumpaan terus dibuka, dirawat, dan dihidupkan bersama.”

Baca juga:  Waspada! Makan Nasi Putih 3 Kali Sehari Bisa Bikin Diabetes

Pameran “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” dikurasi oleh para Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia yaitu Aminudin TH Siregar, Agung Hujatnikajennong, Citra Smara Dewi, dan Dio Pamola Chandra. Menurut para kurator, judul “Bersimpuh di Kaki Para Guru” memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar menghormati seorang pengajar. “Bersimpuh” di sini bukan kepatuhan tanpa berpikir, melainkan kesediaan untuk belajar dan menerima bahwa seorang seniman tidak muncul begitu saja dari dan karena dirinya sendiri.

Nasirun belajar dari mereka yang sepanjang hidup sering ia sebut sebagai “para guru”, yang tidak hanya terbatas pada pengajar pendidikan formal, melainkan bisa siapa saja atau apa saja yang mengubah cara pandang seseorang terhadap seni dan kehidupan. “Namun, posisi “guru” dan “murid” tidak pernah benar-benar tetap. Seseorang yang hari ini belajar, suatu saat akan menjadi tempat bagi orang lain untuk belajar. Di sinilah makna paling dalam dari “bersimpuh”, yaitu kesediaan untuk terus mengingat dari mana pengetahuan itu berasal. Pada saat yang sama, ada kesadaran bahwa suatu hari pengetahuan itu harus diteruskan. Maka, pameran ini menggarisbawahi sesuatu yang mungkin sama pentingnya dengan karya-karya seni, yaitu etika hubungan antarseniman, antarmanusia,” jelas Aminudin TH Siregar, Ketua Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia.

Baca juga:  Dari Lomba Bercerita, Puisi dan Pidato, Pentingnya Menanamkan Disiplin dan Percaya Diri pada Anak-anak

Dalam konteks “guru” yang luas tersebut, muncul nama-nama “para guru” Nasirun, yang beberapa di antaranya turut dihadirkan karyanya dalam pameran ini. Mereka adalah Abas Alibasyah, Affandi, Ahmad Sadali, Amang Rachman Jubair, Amri Yahya, Bagong Kussudiardja, Djoko Pekik, Edhi Soenarso, Fadjar Sidik, Harijadi Sumadidjaja, Hendra Gunawan, Jeihan Sukmantoro, Kusnadi, Nasirun, Oesman Effendi, S. Sudjojono, Widayat, dan Zaini.

Baca juga:  Membaca “Kepala” Yayat Lesmana dalam Pameran Jakarta PROVOKE! 2025

Melalui karya-karya Nasirun dan “para guru”-nya yang berupa lukisan, patung, dan memorabilia Nasirun, kita tidak hanya diajak untuk mengenal lebih dekat sosok Nasirun melalui perjalanan artistiknya, namun juga menelusuri bagaimana pengetahuan artistik berpindah antargenerasi, diterima, ditafsirkan kembali, dipertanyakan, diubah, hingga ditransmisikan dalam bentuk yang berbeda. Inilah kesempatan bagi kita untuk menjadi murid dan belajar dari perjalanan hidup Nasirun.

Pameran “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” dibuka pada Sabtu, 12 September 2026 oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon) Dr. H. Fadli Zon, M.Sc. Pameran akan berlangsung mulai 13 September hingga 11 Oktober 2026 (tutup setiap Hari Senin).*

Komentar