BANTEN72 – Rb. Mamet Swalle, yang lebih dikenal dengan nama sapaan Rb. Ali, adalah pelukis yang juga gemar menulis puisi akan menggelar karyanya di Zen-1 Gallery, Jln Purworejo No 24 Duku Atas Menteng Jakarta Pusat yang akan dibuka pada Jumat, 13 Februari 2026 pukul 17.00 wib dan berlangsung hingga 9 Maret 2026.
Ekspresi lukisan-lukisan Ali, terutama yang dipamerkan kini, pun banyak mengandung ungkapan tulisan atau huruf. Karya-karya yang ditunjukkan ini merujuk pada renungan perjalanan hidup Rb. Ali dalam kisaran waktu kurun waktu empat tahun terakhir.
Ada rentetan peristiwa penting dan menentukan alur hidup Ali pada masa-masa itu. Banyak orang mahfum, bahwa ‘kehidupan manusia adalah panggung sandiwara,’ dan bagi Ali, panggung itu juga mementaskan narasi getir dalam hidup yang justru memicunya jadi sumber penciptaan karya.
Lukisan Ali mengandung narasi dengan ungkapan yang puitik. Ada banyak gambaran tentang sosok manusia, selain benda-benda, atau bentuk-bentuk ‘asing’ yang ia ciptakan secara kreatif. Proses deformasi bentuk yang dikerjakan Ali ditempatkan dalam susunan komposisi bidang kanvas yang dipertimbangkan menjadi harmonis. Ekspresi lukisan Ali, nampaknya, menyerap namun memantulkan secara unik pengaruh kecenderungan bebas gerakan seni Surrealisme (khususnya karya Joan Miro) serta pertimbangan struktural abstrakisme Georges Braque (namun dengan karakter komposisi warna yang tak sama).
Menghubungkan dua pendekatan proses penciptaan seni berkarakter beda itu akhirnya menghasilkan karakter ekspresi yang unik dan khas pada lukisan Ali. Ada soal kontras di situ, tentang memadukan dua hal yang umumnya dianggap bertentangan dan tak bisa dihubungkan. Inner sight Rb Ali justru menciptakan caranya sendiri.
Ali percaya bahwa tiap tragedi hidup seseorang tak hanya menambat jeruji eligi duka tetapi juga memendam energi cita yang bersifat membebaskan, memberikan daya pertumbuhan hidup yang mengubah dan memperbaharui diri. Ekspresi lukisan-lukisan Ali mencari dan menggali dimensi keindahan dalam harmoni perjumpaan antara bentuk-bentuk yang literal (tulisan, huruf, angka) dengan yang visual (deformasi bentuk), antara ekspresi naratif dengan aspek puitis, serta memadukan masalah kontras antara bidang-bidang terang dan gelap.
Ekspresi inner sight Rb. Ali, pada akhirnya, bukan soal refleksi mengenai narasi pengalaman dirinya sendiri melainkan justru soal pengalaman pergulatan menjadi manusia agar mampu bertahan selaras dalam aliran hidup. Energi hidup, secara misterius dan tersembunyi, justru ‘memandu’.
Orkestrasi Jiwa
Menurut Ali bahwa seni adalah cermin jiwa. Di setiap goresan dan warna, ada jejak kegelisahan, harapan, dan perasaan yang tak bisa diucapkan. Perjalanan saya dalam dunia seni bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang penuh gejolak—jatuh cinta, patah hati, kegagalan, hingga merangkul kehilangan begitu dalam.
“Bagi saya, seni adalah bentuk katarsis. Saat hati porak poranda, saya tidak pergi menyepi, melainkan menuangkannya di atas kanvas atau menulisnya lewat puisi. Dari kehancuran itu lahir kekuatan baru. Banyak karya buah dari kerinduan akan cinta yang utuh dan ingin saya pelihara seumur hidup. Bahkan ada salah satu karya pernah saya jadikan mas kawin—karena cinta, bagi saya, harus menjadi kekuatan penciptaan,” tuturnya.
Ia melanjutkan, saya tidak memisahkan kehidupan pribadi dengan karya. Justru saya membiarkan keduanya menyatu, karena seni yang jujur hanya bisa lahir dari pengalaman yang otentik. Proses berkarya bagi saya adalah pengendapan: membiarkan perasaan larut, lalu hadir sebagai karya yang matang. Mungkin karena itu, karya-karya saya terlihat “ramai dalam sepi”—tapi di situlah maknanya, di dalam pencarian dan kegelisahan yang tak kunjung usai.*








Komentar