Mengabadikan Ingatan dalam Bentuk Rupa

BANTEN72 – Solo Arts Lab × LOSSO: Kitchen & Gallery Jl. Teratai I No. 21, Mangkubumen, Solo, Jawa Tengah menggelar pameran tunggal karya Adam Wahida dengan tajuk Memories yang berlangsung dari February 15 – March 15, 2026.

Melalui pameran Memories, Kitchen & Gallery menghadirkan praktik artistik Adam Wahida yang menempatkan tubuh, tradisi, dan alam sebagai arsip hidup. Karya-karya dalam pameran ini membuka ruang kontemplasi tentang memori sebagai energi transformasi, bukan sekadar jejak masa lalu melainkan daya yang membentuk kesadaran kolektif dan keberlanjutan masa depan.

Dalam pernyataan Adam Wahida, mengatakan, Seni bagi saya adalah praksis memahami dan mengada. Melalui strategi lintas-media, karya saya menjadi ruang dialog antara arsip budaya, tubuh eksistensial, dan kesadaran ekologis. Di dalamnya memuat peristiwa konseptual yang merajut sejarah, memori kolektif, dan keberlanjutan.

Baca juga:  Banyak Yang BelumTahu! Inilah Tanaman Hias Penarik Rezeki dan Keberuntungan

“Melalui pameran Memories ini, saya mengeksplorasi ingatan sebagai energi yang hidup dalam tubuh, sejarah, dan lanskap alam. Memori bukan nostalgia, tetapi sumber transformasi. Ia hadir dalam luka, doa, harapan, dan cahaya. Setiap karya menjadi ruang dialog antara arsip budaya dan pengalaman eksistensial, antara memori kolektif dan keberlanjutan,” ujar Adam yang juag dosen di UNS Surakarta.

Ia menambahkan, melalui pameran Memories ini, saya mengajak penikmat untuk berhenti sejenak, membaca ulang jejak tubuh dan sejarah, serta merasakan kembali keterhubungan dengan alam. Seni menjadi ruang kontemplatif, tempat kita dapat melihat lebih dalam, berpikir lebih luas, dan merawat ingatan sebagai sumber cahaya bagi masa depan.

Dalam catatan kuratornya, Hendra Himawan menjelaskan, pameran tunggal “Memories” ini menghadirkan suatu bentang refleksi yang luas tentang bagaimana ingatan bekerja dalam tubuh, sejarah, dan lanskap kehidupan. Dalam praktik artistik Adam Wahida, memori tidak pernah hadir sebagai nostalgia yang beku atau romantisasi masa lalu. Ia adalah energi yang bergerak, retak, tumbuh, dan bertransformasi. Memori menjadi ruang negosiasi antara tradisi dan kontemporer, antara pengalaman personal dan kesadaran kolektif, antara spiritualitas dan politik kultural, antara tubuh dan semesta.

Baca juga:  Rb. Ali Siap Pamerkan Karyanya dengan Tajuk Inner Sight

Melalui lukisan akrilik, batik lukis, serta eksplorasi material limbah tekstil, Adam membangun bahasa visual yang menempatkan seni sebagai praksis epistemologis sekaligus ontologis: seni sebagai cara mengetahui dan sekaligus cara mengada. Tradisi batik klasik dengan nilai eling lan waspada, memayu hayuning bawana, laku sabar, serta simbol-simbol seperti parang, truntum, kawung, dan semen, tidak diperlakukan sebagai ornamen historis, tetapi sebagai teks kultural yang terus bertransformasi. Dalam pameran ini, tradisi menjadi memori hidup yang dinegosiasikan kembali dalam lanskap zaman yang berubah.

Baca juga:  Anggota DPRD Banten Nawawi: Ramadan Bulan Penuh Berkah, Momentum Perkuat Kepedulian Sosial

“Memories bukanlah pameran tentang masa lalu semata. Ia adalah tentang bagaimana ingatan bekerja sebagai energi transformasi. Dari ruang batin menuju ruang sejarah, dari trauma menuju harapan, dari identitas menuju ekologi, karya-karya Adam Wahida membangun jembatan antara tradisi dan aktualitas,” jelasnya.

Tubuh dalam pameran ini adalah arsip. Tradisi adalah nafas. Alam adalah ingatan yang melingkupi semuanya. Dalam dunia yang serba cepat dan mudah lupa, Memories mengajak kita untuk berhenti, mendengar kembali suara batin, membaca ulang jejak sejarah, dan merasakan keterhubungan dengan semesta. Di antara retakan, bunga tetap mekar. Di tengah sunyi, mimpi tetap bergerak dan dalam lapisan-lapisan memori yang terus berubah, selalu ada kemungkinan untuk tumbuh kembali.

Pada akhirnya pameran Memories Adam Wahida laku seniman dalam mengabadikan ingatan-intannya dalam bentuk rupa.*

Komentar