BANTEN72-Belum lama ini di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten kampus dua digelar acara diskusi buku “Kenapa Harus Tiongkok?” yang ditulis oleh Sukron Makmun.
Hadir sebagai pembicara yaitu Wakil Ketua Harian Persatuan Hubungan Tiongkok Indonesia (PERHATI), Sudjadi dan Sekjen PERHATI yang juga jurnalis senior Harian Kompas Iwan Santoso.
Buku “Kenapa Harus Tiongkok?” merupakan kumpulan artikel-artikel Sukron Makmun yang pernah terbit di berbagai media. Buku yang membahas soal Tingkok dari sosial, sejarah, budaya hingga politik ini menjadi buku yang penting bagi kalangan pemerhati sosial, kebudayaan, politik, dan sejarah.
Buku “Kenapa Harus Tiongkok?” ini merupakan potret yang ditangkap oleh Sukron lewat tulisan. Sehingga buku ini menjadi seperti cerita yang mengalir dari pendongeng yang fasih dengan ceritanya.
Dari cerita satu ke cerita berikutnya mengalir dengan bahasa yang enak, tidak rumit untuk dipahami. Dalam salah satu tulisan buku ini misalnya, Sukron menceritakan bagaimana Pemerintah Tiongkok di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping terus melakukan upaya mengurangi kemiskinan di negeri Tirai Bambu tersebut.
Dalam jangka waktu 40 tahun pasca reformasi dan keterbukaan, setidaknya 700 juta warga terbebas dari kemiskinan, indeks kontribusi pengentasan kemiskinan melampaui 70 persen.
Tentu keberhasilan Presiden Xi Jinping ini dilakukan dengan kerja keras dan sungguh-sungguh. Dalam diskusi tersebut Sukron mengakatan, soal korupsi di Tiongkok ini tidak main-main. Ketahuan korupsi hukumannya adalah hukuman mati. Mungkin karena itu Tiongkok bisa cepat maju dengan pesat.
Dalam tulisan berjudul “Shenzhen; Teladan untuk Kota Masa Depan Ideal” kita jadi tahu bagaimana perkembangan teknologi di Tiongkok dan meningkatnya pendapatan perkapitanya.
Iwan Santoso dalam diskusinya menyinggung soal keturunan Tiongkok yang diberi gelar Tubagus. Jadi di banten soal hubungan dengan Tiongkok bukanlah hal yang asing. Iwan juga memberikan pemaparan bahwa dulu di beberapa wilayah juga dipimpin bupati keturunan Tiongkok yang sudah beragama Islam.
Sementara Sudjadi, memberikan pandangannya tentang pendidikan di Tiongkok. Saat ini, kata Sudjadi, Indonesia menjadi negara ke sembilan yang penduduknya banyak belajar di Tiongkok.
Selain itu, Sudjadi mengatakan kepada mahasiswa yang hadir dalam acara bedah buku tersebut, untuk mendapatkan beasiswa belajar di Tiongkok sangat terbuka lebar. Sebab, Pemerintah Tiongkok menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk beasiswa bagi negara lain.
Sudjadi juga menilai buku “Kenapa Harus Tiongkok?” bisa menjadi buku panduan bagi yang mau belajar di negeri Tiongkok.
Secara keseluruhan buku “Kenapa Harus Tiongkok?” ini menghimpun 20 tulisan artikel. 20 artikel ini merupakan hasil dari penjalanan Sukron di Negara Tiongkok. Dengan membaca buku ini kita juga menjadi tahu, bahwa di Tiongkok ada wilayah yang berbasis Islam. Bagaiman Islam di Tiongkok kita bisa dibaca pada tulisan yang berjudul “Politisasi Uighur dan Potret Keislaman di Tiongkok”, “Ihwal Beragama dan Sikap Toleransi di Tiongkok “, dan “Narasi Miring dan Kesalahpahaman tentang Tiongkok”.
Buku “Kenapa Harus Tiongkok?” menjadi pelengkap pengetahuan tentang Tiongkok yang masih dipandang miring oleh sebagian penduduk Indonesia. Bukankah tak kenal maka tak sayang. Maka dengan buku ini, tak membaca maka tak tahu.*








Komentar