Perupa Senior Tulus Warsito dan Ar. Soedarto Pameran di Balai Budaya Jakarta

BANTEN72-Pameran lukisan dan patung dua perupa Tulus Warsito (72) dari Yogyakarta dan Ar. Soedarto (74) dari Jakarta, digelar di Balai Budaya Jakarta, yang berlangsung  dari 22 – 29 Oktober 2025. Dengan mengambil tema “Dinamika Dalam Diam”. Kenapa Dinamika Dalam Diam?  Karena karya-karya yang dipamerkan secara fisik memang diam [stil/statis], tetapi mengekspresikan dinamika gerak, baik dalam warna, garis  maupun titik.

Jumlah karya yang akan digelar dalam pameran ini ada  31 lukisan dan patung. Pameran yang dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia DR. Fadli Zon, Rabu 22 Oktober.

Dalam sambutannya, Fadli Zon mengatakan, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Ar Soedartodan Prof. Dr. Tulus Warsito atas dedikasi dan konsistensi dalam berkarya. Pameran ini memperlihatkan kedalaman pemikiran dan kekuatan visual dalam menyampaikan gagasan tentang diam dan dinamika dalam seni rupa, sebuah konsep yang menunjukkan pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita.

Baca juga:  Jangan Lewatkan! Gratis Tol & Promo Ramadan–Lebaran 2026, Asyiknya Menginap di Tepi Pantai  Tanjung Lesung 

“Sebanyak 31 karya yang dipresentasikan dalam pameran ini menunjukkan intensitas dinamika yang kuat melalui permainan warna, komposisi bentuk, eksplorasi simbol, serta kekuatan tema yang diangkat. Diam dapat menjadi bentuk kepekaan,kekuatan dan ketajaman rasa. Dalam diam, para seniman justru menemukan ruang yang luas untuk menggali nilai, menggugah perasaan dan menyampaikan pesan melalui karyanya.

Motivasi pameran dua perupa ini mencerminkan bahwa sebagai perupa senior, pameran adalah tradisi menuai kritik maupun penilaian. Dengan menggelar pameran berdua ini kritik dan penilaian publik menjadi cermin yang penting bagi perjalanan dan perkembangan ke depan kami sebagai perupa. Tentu masih banyak kekurangan dalam pameran ini, tetapi semakin banyak kekurangan menjadikan kami semakin bersemangat untuk memperbaikinya.

Tulus Warsito mengatakan, dalam artistika, mudah-mudahan karya-karya kami sebagai  perupa senior dapat memicu perupa yang lain untuk berkarya dan berpameran jauh lebih baik.

Baca juga:  Apa Itu Depresi Yuk Pahami Untuk Mencegah Bunuh Diri

Dalam pengantar pameran Mantan Jurnalis Seni TEMPO. Raihul Fadjri mengatakan, karakter adalah kata kunci untuk lukisan bercorak abstrak yang bisa menarik perhatian orang untuk menikmati hamparan komposisi bentuk citraan non representasional, saat seni lukis abstrak didominasi karya berupa sapuan kuas berupa citraan non representasional yang seragam. Di tengah kecenderungan ekspresi lukisan abstrak itu muncul dua pelukis yang memberi karakter yang kuat pada karya lukisnya, yakni AR Soedarto dan Tulus Warsito.

Bagi Soedarto, menghadapi tantangan kanvas dan berbagai macam warna di atas pallet, ini menjadi sebuah tantangan tersendiri. “Bergumul untuk melahirkan karya tidak cukup dengan skill teknik semata, namun didasari dengan formula ide dan konsep yang matang,” ujarnya.

Baca juga:  Rb. Ali Siap Pamerkan Karyanya dengan Tajuk Inner Sight

Mengungkap aura suasana sebuah objek, apapun bentuk dan peristiwanya, dengan jeli ditangkap oleh mata, diolah dalam otak, disaring dengan mata hati dan lahirlah sebuah proses yang sudah mengkristal untuk dituangkan di atas kanvas. “Sehingga muncul suasana aura yang baru hasil kontemplasi yang mendalam diiringi hubungan yang intens dengan sang pencipta,” ucapnya.

Adapun Tulus Warsito sudah sejak akhir dekade 1970-an tertarik bermain dengan pencitraan (image} dan kemampuan inderawi (sensory) manusia dalam memahami dan menikmati karya lukis. Karya lukis Tulus punya karakter khas berupa corak abstrak ilusi optik yang mengeksplorasi objek dengan kemampuan sensor mata terhadap citraan objek yang menampilkan objek-objek garis maupun titik berupa plototan cat langsung dari tube. Eksplorasi itu diikuti citraan serupa yang mirip bayang-bayang sebagai titik pesona karya lukisnya. “Padahal secara logis itu bukan sebagai bayangan,” tutur Tulus. *

Komentar