BANTEN72 – Proyek seni berbasis lingkungan ini adalah proyek edukasi. Proyek yang digagas oleh Sekartaji Suminto dan Peni Citrani Puspaning. Meski mereka berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda, (Sekartaji Suminto dari DESPRO ISI Yogyakarta dan Peni Citrani Puspaning dari Psikologi Untag Surabaya) namun keresahan dan kegelisahan mereka berdua pada kondisi lingkungan yang ada sekarang ini mengingatkan pada masa kecil mereka.
Di mana alam masih terjaga dengan baik. Lingkungan sekitar masih subur di mana dengan mudahnya aneka tanaman tumbuh subur serta serangga yang berperan penting dalam proses penyerbukan yang menjadikan ragamnya pangan sudah jarang terlihat.
Pameran ini bertajuk “Envi.ro.Mental” yang tidak serta merta dimaknai secara harafiah semata. Dari kata Envy yang dalam pembacaannya adalah “envi” yang berarti iri atau kecemburuan, Ro yang dalam bahasa Jawa berarti “pada” dan Mental yang berhubungan dengan kondisi psikis manusia. Jika diartikan maka menjadi “iri (kecemburuan) pada mental”.
Pameran seni rupa bertajuk “Envi.ro.Mental” dibuka oleh Anthony Wibowo dan berlangsung dari tanggal 24-29 Agustus 2025 bertempat di Dewan Kesenian Malang (DKM)-Art Center, Jl. Majapahit No. 3, Kauman. Kecamatan Klojen, Malang.
Menurut Peni Citrani Puspaning, pameran “Envi.ro.Mental” lahir dari pertemuan dua dunia—dua pelukis yang, meski berbeda dalam banyak hal, berbagi akar kenangan yang serupa: masa kecil yang akrab dengan alam. Kami tumbuh di antara suara gemericik sungai, aroma tanah basah, cahaya pagi yang menembus sela pepohonan, dan riuh rendah serangga menjelang senja. Kenangan-kenangan itu, yang pada awalnya hanya tinggal di sudut ingatan, kini menemukan jalannya ke atas kanvas.
Karya-karya dalam pameran yang digarap perupa Peni Citrani Puspaning dan Almh. Sekartaji Suminto utamanya dengan tone warna sederhana, pastel dan bentuk-bentuk doodle khas anak-anak—bukan sekadar pilihan estetika, tetapi sebagai bahasa visual yang jujur. Di dalam kesederhanaannya, kita diajak merasakan kembali dunia yang pernah kita kenal sebelum kompleksitas kehidupan dewasa mengaburkannya.
Sekartaji Suminto, satu pelukis, yang menjadi bagian penting dari proses kreatif ini, berpulang sebelum kesempatan melihat karya-karya ini menyapa publik. Kehadirannya kini hanya lewat gurat-gurat gambar yang ia tinggalkan—jejak yang membeku di kanvas, namun tetap hidup dalam hati yang mengingatnya. Kehilangan ini membuat setiap lukisan menjadi lebih dari sekadar karya seni; ia adalah percakapan yang terhenti, namun terus bergaung.
Tema ekologi dalam pameran ini bukan sekadar latar cerita, melainkan inti dari ingatan itu sendiri. Alam yang digambarkan bukanlah lanskap agung nan megah, melainkan fragmenfragmen kecil: gundukan bukit, kupu-kupu, sulur-semak berbunga dan binatang-binatang favorit masa kanak-kanan. Dengan gaya visual yang tampak lugu, kedua pelukis seakan mengajak kita untuk kembali mengenali, mencintai, dan merawat dunia yang pernah menjadi taman bermain kita bersama.
Pameran ini adalah undangan untuk menoleh ke belakang, merayakan keindahan yang sederhana, dan mengingat bahwa masa kecil—dengan segala warna pastelnya—masih menyimpan pesan yang relevan: bahwa alam, seperti kenangan, hanya akan tetap hidup jika kita menjaganya.
“Pameran ini bukan hanya perayaan seni, tetapi juga penghormatan. Untuk alam yang pernah memeluk kita, untuk persahabatan yang melintasi batas hidup dan setelahnya, untuk ingatan yang, meski dibingkai di dinding, terus bergerak di dalam hati “dalam kenangan, seorang sahabat, Sekar,” kata Peni.*








Komentar