Mengungkapkan Kembali Sesuatu yang Tersembunyi

PERUPA William Robert akan menggelar pameran tunggalnya yang ke 19 di Bentara Budaya Yogyakarta pada tanggal 23 April 2025 (hari ini-Red). Pameran ini menampilkan delapan buah karya yang ia kemas dengan judul TIANG HORISONTAL. Menurut pelukis berdarah Ambon kelahiran Medan ini, judul ini ia tawarkan dengan perenungan sederhana bahwa seringkali kata ‘tiang’ itu sellalu dihubungkan dengan hal yang bersifat vertikal. Pada umumnya tak ada yang menempatkan kata ini disandingkan dengan kata horizontal. Kata vertikal biasanya dimaknai secara atas kebawah, bawah keatas. Tiang vertikal dapat dipahami mungkin secara dasar, adalah tiang pancang, yang merupakan fondasi awal untuk membangun sesuatu secara fisik. Disisi lain hal yang sifatnya spiritual seperti hubungan kita dengan Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Kasih, seringkali diistilahkan sebagai hubungan vertikal, atau William menyebutnya sebagai tiang vertikal. Sedangkan hubungan sesama manusia dan seluruh ciptaan Tuhan, ia istilahkan sebagai Tiang Horisontal, seperti judul pameran tunggalnya kali ini.

Pameran tunggal William Robert kali ini adalah untuk kedua kalianya ia berpameran tunggal Bentara Budaya, dimana sebelumnya perupa yang sudah berkarir selama kurang lebih 36 tahun ini telah menggelar karyanya di Balai Soedjatmoko, Bentara Budaya Solo dalam pameran tunggal yang bertajuk Reka Muka. Tawaran sang perupa akan narasi Tiang Horisontal dilatar belakangi oleh pengalaman empirik, dialami sebagai perupa sejak dulu ia sering berpergian ke banyak tempat untuk mengembangkan atau mengenal banyak hal mengenai seni rupa di berbagai kota yang terdapat kantong seni rupa. Ia mulai mengenal Ubud pada tahun 1990, dimana sebelumnya ia juga tinggal di Bandung. Meskipun tahun 80an ia pernah melihat kota Yogyakarta, namun ia mulai ikut beberapa kegiatan di kota itu sekitar tahun 1996. Di kota budaya yang sangat banyak melahirkan seniman besar ini, ia mulai ikut FKY dan berpameran tunggal untuk pertama kalinya di Gono Art Studio, Jago Joglo, tahun 1999. Pengalaman berharga ini semua berkat jasa dua orang bagi Willam sungguh istimewa. Kedua seniman tsb adalah Godod Sutejo dan Sudargono, yangn kini telah tiada. Dan dalam pameran ini secara khusus William Robert mengekspresikan terima kasihnya kepada kedua orang yang paling berperan dalam perjalanan awal karirnya, hingga ia bisa sampai pada titik dimana ia telah menggelar atau terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa di dalam negeri hingga manca negara.

Baca juga:  Monyet Liar di Pantai Kerang  Jadi Daya Tarik Wisatawan

Cerita-cerita pengalaman hidup yang begitu berwarna ini, begitu sarat dengan pengalaman empirik baginya, karena merasa diterima dibanyak tempat, kemanapun ia pergi pasti dianggap saudara, diwongke, dibantu dalam banyak hal bahkan kemudahan tanpa syarat. William merasakan kasih dimana-mana, membuat ia dapat terus bertumbuh, belajar hidup dan terus mencoba meraih pencapaian yang berarti. Begitupun ketika pada akhirnya saat ia pulang kampung ke Maluku, ia juga akhirnya memahami sejarah atau banyak cerita tentang kerukunan di Maluku. Banyak bangsa sudah sudah datang ke gugusan pulau yang sohor sebagai penghasil rempah terbaik di dunia, juga banyaknya pendatang dari berbagai suku di Nusantara, yang hidup turun- temurun, melalui kawin campur/asimilasi dan sebagainya. Dan kerukunan indah ratusan tahun ini pernah diganggu oleh para perusuh dari luar yang ingin merusak Tiang Horisontal, dengan isu pecah belah. Ia begitu sedih akan hal ini. Hingga akhirnya, rasa kasih dan persaudaraan yang sebenarnya sudah terpatri sejak dulu dalam semangat Pela Gandong mengembalikan lagi perdamaian, kerukunan cinta kasih atar sesama masyarakat Maluku yang sesungguhnya sangat majemuk.

Juga pada peristwa Covid 19 melanda dunia, peupa yang juga hobi bermain musik ini melihat faktanya bahwa Tiang Horisontal ini benar-benar diuji dan memang teruji. Selama pandemi berlangsung, kepedulian antar sesama manusia di seluruh dunia begitu terasa. Begitu luar biasa. Dengan banyak cara, kita saling mengingatkan akan bahayanya virus mematikan ini. Diberbagai negara, di banyak tempat orang-orang mendistribusikan bantuan, menyampaikan doa, pesan-pesan kemanusiaa untuk saling peduli agar ini semua segera berakhir. Dan hingga akhirnya pandemi berakhir, Tiang Horisontal kokoh menopang kita dalam melanjutkan hidup yang diistilahkan dengan New Normal.

Baca juga:  Anggota DPRD Andri Dukung Pernyataan Tokoh Selatan Pandeglang H. Ali Balpas soal Pengelolaan Sektor Pariwisata

Dalam pengantarnya Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya menggaris bawahi bahwa banyak pelukis Indonesia yang memilih menekuni aliran abstrak. Salah satunya William Robert, seniman keturunan Ambon, Maluku yang kini bermukim di Jakarta. Lewat pendekatan visual abstrak, dia mengajak kita utnuk merenungi hal-hal sederhana namun mendalam. Lihatlah lukisan yang berjudul , “ Tiang Horisontal “ Karya ini cukup besar, memanjang kiri ke kanan 250 x 600 cm. Bagian kanan berupa bidang blok besar warna hitam keabu-abuan. Bagian kiri dipenuhi bidang-bidang kecil warna-warni cerah. Pada bagian tengah , terdapat blok kotak memenjang horizontal yang menghubungkan bagian kanan dan kiri. Melihat lukisan ini kita seperti digirng untuk memikirkan sesuatu yang asalnya berjarak, kemudian terhubung oleh semacam keadaan tertentu. Bidang-bidang kecil warna-warni bisa mewakili citra manusia yang beragam. Blok kotak memanjang, mirip tiang yang rebahan ( horisontal ), itu semacam penghubung yang mempertautkan antar manusia yang beragam.

Sementara itu kurator pameran ini Prof. Dwi Marianto, MFA, Ph.D menyebutkan beberapa poin yang bisa dicermati. Salah satunya adalah bahwa karya-karya lukis William Robert selalu mengait pada adat istiadat masyarakat adat di tanah Maluku yang telah hidup dan mentradisi selama berabad-abad ; berbagai komunitas dan kelompok etnis yang berbeda, setia pada system kekekrabatan itu ; caranya dalah menghidupi kesadaran untuk saling mengangkat dan memerlukan negeri lain dan warganya sebagai saudara atau sesama. Pela Gandong adalah bendera dengan apa negeri yang ada di Maluku untuk saling menjaga, keberlajutan relasi persaudaraan antar negeri.( komunitas )

Baca juga:  Pemerintah Tetapkan 24 Juli Sebagai Hari Kebaya Nasional

Realisasi artistik atas ide-ide itupun beragam. Namun biasanya sang subjek memilih cara yang paling dikuasai, yang dengan apa ia dapat mengaktualisasikan dirinya secara optimal. Dengan seni abstrak, yang menggunakan pendekatan non representasional, non figuratif atau non objektif. William Robert mengabtraksikan berbagai refleksi dan pengalaman yang berbeda.

Disisi lain dalam tulisannya AA Nurjaman menilai bahwa lukisan abstrak William Robert berpijak pada pengalaman-pengalamannya yang tersimpan di alam bawah sadarnya. Itulah kekayaan realitas yang maknanya begitu tersembunyi, sehingga tidak bisa dijelaskan secara ‘ real ‘, melainkan hanya bisa dilukiskan untuk kemudian dipahami. Karya-karya abstrak William Robert dimaksudkan untuk mengungkapkan kembali sesuatu yang tersembunyi, memperjelas sesuatu yang tidak terartikulasikan, sehingga dalam pengungkapan ia tidak memilih metafora-metafora dalam bentuk figure atau objek realistic, sebab yang diungkapkan justru “kedalaman rasa” yang hanya bisa diungkapkan melalui symbol berupa bidang, garis dan warna.

Dalam pameran yang berlangsung selama sepuluh hari ini, tentu diharapkan banyak terjadi dialog antara sang perupa dengan para apresiator, untuk membuka atau mencoba lebih memahami seluasnya cakrawala buah pikiran, ide, gagasan, narasi dan apapun yang bisa dibaca dari pameran ini. Meskipun pada akhirnya tentu karya-karya yang ditampilkan adalah multi tafsir bagi siapa saja. Dan bagi William Robert sendiri pameran ini, selain untuk menyampaikan beberapa hal diatas, tetapi juga merupakan perayaan atau rasa syukur akan masih terjaganya Tiang Horisontal dalam kehidupan lalu, hari ini, dan semoga terjaga hingga masa datang, bahkan selamanya.*

Komentar