Memahami Relevansi Kepemimpinan Hos Tjokroaminoto

Oleh: Indah Dwi Agusti

Mahasiswa Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

 

RADEN Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (H.OS. Tjokroaminoto) adalah satu figur paling berpengaruh dalam kancah pergerakan nasional Indinesia. Dijuluki sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota”. Karismanya terabadikan dalam organisasi massa terbesar di masa kolonial, Sarekat Islam (SI) yang berhasil menggalang kekuatan rakyat pribumi secara masif. Namun, peran Tjokroaminoto seringkali hanya diingat sebatas pemimpin organisasi. Peran utamanya sebagai mentor ideoliogis yang mampu mennyatukan berbagai iodeologi nasionalis, sosialis-komunis, dan islamis di bawah satu atap persatuan justru sering tereduksi. Disinilah letak relevansi kepemjimpinan Tjokroaminoto, terutama di tengah krisis keteladanan dan polarisasi yang dihadapi bangsa saat ini. Model kepemimpinan Tjokroaminoto ini merupakan perpaduan paripurna antara visi politik, keteladanan moral, dan kecerdasan strategis, yang terangkum sempurna dalam adagiumnya yang melegenda: “setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”.

Baca juga:  Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas dan Mutu Pendidikan di Tengah Efisiensi

Pilar pertama “setinggi-tinggi ilmu”, menunjukkan visi politik dan inovasi jangka panjangnya. “ilmu” di sini dimaknai sebagai kecerdesan strategis dan keberanian mengambil risiko politik. Tjokroaminoto mengambil langkah radikal dengan meninggalkan statusnya sebagai pegawai kolonial (ambtenaar) untuk menjadi pedagang dan pemimpin pergerakan, sebuah tindakan pembebasan diri dari sistem kolonial. Lebih krusial, ia sudah memiliki visi republik demokratis sebagai bentuk negara Indoensia merdeka, jauh sebelum gagasan kemerdekaan menjadi aksi, melalui SI ia berhasil menggalang massa dan menyebarkan perlawanan terhadap kolonialisme. Selain itu, Tjokroaminoto merupakan guru sekaligus teman diskusi terhadap beberapa tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno, Kartosoewiryo, Abikoesno, Alimin dan Muso. Bahkan, Soekamo yang dikemudian hari menjadi Presiden Republik Indonesia pertama, pernah menjadi menantu dari Tjokroaminoto.

Pilar kedua “Semurni-murni tauhid”, adalah fondasi moral dan integritas dari perjuangannya. Tjokroaminoto melalui konsep Sosialisme Islam untuk menantang penindasan kolonial. “Tauhid” diterjemahkan menjadi inetgritas personal dan keberpihakan yang kuat terhadap keadilan sosial dan hak-hak kaum pribumi. Kepemimpian ini bersifat profetik, dicerminkan dari kesederhanaan pribadinya dan kemampuan otorisnya yang mampu masyarakata dari keterjajahan. Prinsip moral ini memastikan bahwa pergerakannya tidak tercemar oleh kepentingan politik semata.

Baca juga:  Perkuat Intervensi Pasar, Menjaga Stabilitas Ekonomi Rakyat

Pilar ketiga “sepintar-pintar siasat”, perjalanan dan siasat Tjokroaminoto dalam mendirikan organisasi, menunjukkan kecakapan strategisnya yang luar biasa. Ia adalah tokoh kunci yang membawa Sarekat Dagang Islam (SDI) dari sebuah perhimpunan pedagang menjadi gerakan politik massa yang revolusioner, yang kemudian diubah namanya menjadi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912. Siasatnya tidak hanya terletak pada pengelolaan organisasi, melainkan pada seni mendidik para pemimpin masa depan. Rumahnya di Gang Peneleh, Surabaya, berfungsi sebagai pusat penggemblengan ideologis bagi generasi emas Indonesia, termasuk Soekarno (Nasionalis), Semaoen, Muso, dan Alimin (Komunis), serta Kartosoewirjo (politik agamis).

Siasat Tjokroaminoto yang luar biasa adalah kemampuannya membimbing murid-muridnya dengan berbagai ideologi yang saling bertolak belakang, tanpa memaksakan kebenaran mutlak yang dipegangnya. Ia menginspirasi mereka untuk mencari jati diri dan berjuang. Puncaknya, kecakapan strategis ini juga membawanya masuk ke dalam Volksraad (Dewan Rakyat), sebuah lembaga bentukan pemerintah kolonial, yang ia gunakan sebagai mimbar untuk menyuarakan aspirasi rakyat pribumi secara langsung di hadapan kekuasaan kolonial, membuktikan kepemimpinan yang inklusif dan transformasional.

Baca juga:  UU P2SK Hadirkan Sistem Keuangan yang Lebih Transparan dan Akuntabel

Sebagai kesimpulan, peran Tjokroaminoto melampaui pemimpin organisasi, ia adalah arsitek kesadaran nasional yang meletakkan fondasi filosofis pergerakan. Kepemimpinannya yang merupakan perpaduan anatar kecakapan politik dan moralitas yang kokoh, sangat relevan bagi pemimpin di era kontemporer. Warisin terpentingnya adalah kemampuannya mengelola kebhinekaan ideologis dalam satu wadah perjuangan. Nilai-nilai Tjokroaminoto inegritas moral (tauhid), visi masa depan (ilmi), dan kemampuan menyatukan (siasat) adalah cetak biru kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia saat ini.*

Komentar