Melestarikan Tradisi Panjang Mulud dan Semangat Berbagi

BANTEN72 – Kelahiran Nabi Muhammad SAW bagi agama Islam merupakan keberkahan tersendiri. Setiap tahun diperingati bahkan dijadikan hari libur nasional.

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bagi jemaah dan warga lingkungan Masjid Al Ma’arij Tamab Banten Lestari (TBL) adalah momentum penting untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, meneladani akhlak mulianya, serta memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW secara substantif, bukan sekadar perayaan seremonial.

Wujud cinta dan syukur tersebut menjadi tanda syukur kepada Allah SWT atas diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam.

Meneladani akhlak mulianya adalah dengan menginternalisasi empat sifat utama Rasulullah yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas).

Baca juga:  FISIP UNMA Perkuat Pendidikan Anak di Desa Muruy

Selain itu juga memperkuat persaudaraan, menjadi ajang untuk merajut ukhuwah (persaudaraan) antarumat Islam serta meningkatkan kepedulian sosial seperti berbagi makanan dan santunan.

Dan juga untuk menghidupkan ajaran Islam, menjadikan sejarah dan perjuangan hidup Nabi Muhammad SAW sebagai panduan untuk memperbaiki kualitas iman serta amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Masjid  Al Ma’arij pada tiap tahunnya juga mengadakan panjang maulid atau panjang mulud. Ketua DKM Masjid Al Ma’arij Ustadz Ahmad Taufik mengatakan, panjang mulud adalah budaya dan tradisi turun-temurun masyarakat Banten untuk merayakan hari kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad SAW.

Baca juga:  Peringati Hari Anak Nasional ke-39, Syafrudin Ajak Orang Tua Kawal Anak Menuju Tahun Keemasan

“Dalam syiar, panjang mulud ini juga menjadi wujud kecintaan masyarakat Banten khususnya Jemaah Masjid Al Ma’arij kepada Nabi Muhammad SAW. Panjang mulud juga mempekuat gotong royong, mempererat kebersamaan, rasa kekeluargaan, dan semangat berbagi antarsesama warga,” ujarnya pada Minggu (9/6/2026) di Masjid Al Ma’arij.

Salah satu panitia panjang mulud Masjid  Al Ma’arij, Iman mengatakan, tahun ini panjang mulud di Masjdi Al Ma’arij berjumlah 31 panjang mulud. “Jumlah paket seluruh panjang mulud kurang lebih 590 paket. Dan nantinya akan dibagikan ke warga yang diundang sebanyak 1309 undangan,” katanya.

Baca juga:  Pengukuhan DMI Ranting dan Pembinaan Pengurus DKM se Kota Serang

Untuk diketahui tradisi panjang mulud mulai dirayakan secara besar-besaran pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1682) saat kerajaan mencapai puncak kejayaan. Dan terus dilestarikan hingga sampai saat ini terutama di daerah Kota Serang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Pandeglang dan Rangkasbitung.

Panjang mulud yang berarti hiasan atau dekorasi, sedangkan “mulud” berasal dari kata maulid (kelahiran). Istilah ini juga merujuk pada tempat benda yang berbentuk panjang atau hiasan tandu yang diarak berisi makanan, pakaian, dan telur hias dan lainnya.*

Komentar