Gardu Ganjar Meriahkan Tradisi Ngabubur Suro Bersama Warga di Pandeglang Banten

Tradisi memasak bubur suro dinilai menanamkan sikap gotong-royong karena proses memasaknya yang dilakukan secara bersama-sama, terutama kalangan ibu-ibu. Sikap itu yang menjadikan Indonesia Tangguh.

Proses pembuatan bubur dilakukan dengan metode dan alat-alat tradisional seperti kompor kayu bakar kemudian diaduk secara manual dengan tangan selama sekitar dua jam.

Selain gotong-royong, tradisi tersebut juga dinilai meningkat jiwa sosial karena bubur yang sudah jadi kemudian dibagikan kepada orang yang membutuhkan dan anak yatim.

Baca juga:  Menuju Swasembada Pangan, Bupati Pandeglang Dewi Setiani Panen Perdana Melon Inthanon

“Masaknya, beras dulu dimasukkan ke kuali terus pakai air, pakai api (dimasak), terus dikocek-kocek sambil membacakan hafalan (ayat suci Al Quran) atau selawat hasbunallah wanikmat wakil nikmal maula wanikmannasir. Iya, (buburnya) dibagikan ke warga yang membutuhkan,” ujarnya.

Kegiatan kali ini diakui lebih meriah berkat dukungan kelompok sukarelawan Ganjar Ganjar sehingga mereka pun siap mendukung Ganjar Pranowo menjadi Presiden Indonesia.

Baca juga:  PHRI Dukung Raperda Investasi, Widiasmanto: Bisa Menarik Investor Masuk Pandeglang

Warga pun berharap Ganjar akan memperhatikan wilayah Banten terutama dalam hal pembangunan infrastruktur jalan dan bantuan untuk masyarakat miskin, sehingga Rakyat menjadi Sejahtera

“Mudah-mudahan Pak Ganjar mendapatkan (menjadi presiden) yang terpilih untuk kita semua yang lagi miskin-miskinnya harap diperhatikan. Ke desa-desa harus terjun, bagaimana keadaan desa bagaimana keadaan kecamatan,” tutur Adawiyah berharap. (*)

Baca juga:  Kinerja Baznas Pandeglang Masif, di Penghujung Tahun 2023  Capai Target Rp2, 9 Miliar 

Komentar