Festival Sastra Kepulauan Kembali Digelar

BANTEN72 – Festival Sastra Kepulauan IX kembali digelar di Benteng Somba Opu kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, 18-20 September mendatang. Perhelatan sastra berskala nasional ini diselenggarakan oleh Sanggar Seni Teater Kita Makassar sebagai bagian dari program Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Festival sastra kepulauan berangkat dari keyakinan bahwa sastra merupakan ruang dialog antar manusia. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai karya estetika, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter, penguatan identitas budaya, serta sarana mempertemukan pengalaman kolektif masyarakat kepulauan,” kata Dr. Asia Ramli, M.Pd, ketua penyelenggara. Festival ini akan menghadirkan berbagai kegiatan, meliputi kemah sastra, dialog sastra, workshop penulisan puisi, workshop pertunjukan sastra, penerbitan antologi puisi, dan pementasan.

Baca juga:  Sekitar 769 Kaum Milenial Di Purbalingga Terjangkit HIV Aids Usia Termuda Masih SMP Bagaimana Solusinya?

Ditambahkan, keikutsertaan peserta dijaring melalui proses seleksi. Sedangkan penerbitan antologi puisi berjudul “Kata-Kata yang Menyeberang” menghimpun puisi-puisi bertajuk sastra kepulauan memuat karya-karya peserta ditambah puisi penyair senior di antaranya D. Zawawi Imron (Madura), Dheni Kurnia (Riau), Haryati A. Rahman (Malaysia), Ibrahim Gibra (Maluku Utara), dan Bambang Widiatmoko (Yogyakarta).

Antusias kehadiran peserta sangat besar sebab dilandasi bahwa festival sastra kepulauan merupakan sebuah gerakan kebudayaan yang lahir dari kesadaran bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan kekayaan sastra yang sangat beragam. Keberagaman itu tidak hanya tercermin dalam banyaknya bahasa daerah, tetapi juga dalam tradisi lisan, puisi rakyat. Cerita rakyat, hikayat pelayaran, syair pesisir hingga sastra modern.

Baca juga:  Bubur Ayam Khas Ciamis, Kuliner dengan Cita Rasa Tinggi

“Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1999, festival sastra kepulauan telah menjadi ruang perjumpaan para sastrawan, budayawan, akademisi, komunitas, dan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Andi Taslim Saputra sekretaris panitia.
Beberapa narasumber telah menyatakan kesediaannya untuk mengisi acara dialog sastra yakni Bambang Widiatmoko, Mahrus Andis, Aslan Abidin, dan Mu’jizah, peneliti ahli utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Menurut Bambang Widiatmoko yang pernah berkiprah sebagai Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan, artinya bukan pulau-pulau kecil yang terletak di laut yang jauh, melainkan lautan pulau-pulau atau laut yang menghubungkan dan bukan menceraikan. Laut bisa jadi merapatkan pulau menjadi satu tubuh, satu keluarga atau satu bangsa. Kemajemukan diserap ke dalam kesatuan. Di sisi lain laut adalah menghubungkan namun memiliki hak untuk tetap berbeda.

Baca juga:  Pameran “Envi. ro. Mental” Ajak Pegunjung Menghormati dan Mencintai Alam

“Perlakukan sastra kepulauan sebagai cara membaca atau archipelagic reading sebagai sebuah perpektif, bukan sebuah genre. Sastra kepulauan bisa meliputi diaspora teks, yakni cerita, bahasa, ingatan, dan naskah, ikut berpindah bersama manusia dan berubah dalam perpindahannya,” tambah Mu’jizah.*

Komentar