Pameran Tunggal William Robert, Membaca Pela di Ruang Tempa

BANTEN72 – “Saya dengan tidak mudah memang memutuskan untuk meminjam istilah “PELA” ini, yang saya pergunakan atau pantaskan dengan pemahaman saya, juga terhadap pemaknaan pemikiran tentang sesuatu yang memang dialami, dirasakan sejak kecil, kemudian semakin disadari ada tautannya secara empirik selama berpuluh tahun kemudian” demikian kata William Robert dalam pameran tunggalnya di Indieart House, Jalan AS Samawaat No.088, Bekelan Barat Tegal Kenanga, Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakartadari, yang berlangsung dari 17 Oktober hingga 31 Oktober.

Kata Pela ini umumnya diingat atau dikenal luas dengan Pela Gandong, yang merupakan simbol atau filosofi masyarakat Maluku, tentang kasih dan persaudaraan. Utamanya yang satu kampung.

Perjalanan William cukup panjang, dalam kehidupan berkesenian, ia pernah bekerja sebagai profesional di beberapa perusahaan, juga meninggalkan banyak memori tentang bagaimana penerimaan dirinya di banyak tempat, yang rasanya bukan semata efek dari profesionalisme saja. Ada banyak lapisan lagi yang kemudian ia yakini selalu terbangun secara organik dalam setiap titik perjumpaan, yang kemudian mengendap menjadi obligasi sosial baginya untuk berada di berbagai medan kerja yang pasti berbeda. Tentu wejangan atau pemahaman, ” Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung ” umumnya dijadikan rujukan atau pintu masuk ke dalam kemajemukan yang berlapis dalam kehidupan di negeri yang etnisnya berjumlah kurang lebih 700 etnis.

Dari sejak kecil ketika di kota Medan, Sumatera Utara, William sudah berkawan dengan orang Nias, Melayu, Batak, Karo, Minang, Jawa, Aceh, Manado, Ambon, keturunan India, Tionghoa dan lain sebagainya. Dalam ingatannhya masih melekat akan hal tersebut hingga saat ini. Ya Medan memang salah satu kota terbesar di Sumatera Utara dengan penduduknya yang multi etnis.

Dalam ketatnya orang tua mendidik seluruh anggota keluarga tumbuh dalam kemajemukan, tentu dimulai dari lingkaran keluarga besar yang juga banyak menikah dengan berbagai suku. Dan pastinya lingkungan tetangga, sekolah, kawan satu gereja, satu permainan sepak bola tarkam dan lain sebagainya. Pengalaman indah yang sempat membuatnhya home sick, ketika meninggalkan kota itu karena harus ikut keluarga yang semuanya pindah ke Jakarta pada awal tahun 80an.

“Saat di Sumatera sebenarnya kata Pela sering saya dengar disebut dalam pembicaraan Eyang buyut, juga Oma saya dengan orang tua-tua disana, juga kepada Mama saya. Waktu itu pastinya belum pernah ada pertanyaan ataupun terpikirkan untuk mengetahui arti kata Pela tersebut. Cuma memang unik terdengar, tidak biasa,” ujar William.

Pada masa berikutnya mungkin sekitar lima tahun kemudian setelah hidup beradaptasi dengan Kota Jakarta yang lebih kompleks, ia mulai sering mendengar kata Pela dari ucapan Mamanya. Saat tinggal di sekitar perumahan yang banyak orang Ambonnya, makin sering ia dengar misalnya Mama mengatakan bahwa, ” Keluarga kita tidak ada yang boleh menikah dengan keluarga Tante itu “.

“Saya kala itu memasuki masa remaja, yang mulai masuk jenjang SMA, mulai bertanya tipis-tipis kepada Mama saya, apa maksudnya ucapan itu. Alasan dasar pertanyaan saya tentunya, ketidakpahaman saya kenapa hal tersebut tidak boleh? Kan keluarga kita dengan keluarga mereka juga baru kenal dan bertemu di Jakarta, meskipun sama-sama keturunan Maluku. Pemahaman yang didapat waktu itu tentu tak mungkin saya bantah, meskipun sesungguhnya tak benar-benar sepenuhnya ngerti juga. Yang saya coba pahami dengan masuk akal adalah sebagai sesama Ambon mungkin kami nenek moyang yang sama, yang sebaiknya bila ingin berkeluarga sebaiknya memilih orang dari luar circle nenek moyang kami. Tak bisa dihindari bahwa saya memahami dengan pendekatan sederhana dari apa yang didapat melalui dialog dengan Mama saya, juga tetangga yang juga Ambon,” kata William.

Dalam pameran tunggal sebelumnya di Bentara Budaya Yogyakarta, karya-karyanya dalam narasi utama “Tiang Horisontal” sebenarnya, secara garis besar mengangkat atau banyak membaca relasi hubungan antar manusia secara luas, William juga menyinggung persoalan tersebut dalam karya berjudul Pela Gandong, sebagai aspek lebih lebih kecil dari apa yang ia pahami secara universal, lebih makro lagi dalam bagian dari bagaimana tiang horisontal bisa tetap kokoh, terjaga dengan kuat.

Pada pameran tunggal kali ini, William mengangkat tema dengan tajuk “PELA” yang mencoba menginterpretasikan seluas pengalaman hidupnya. Ia yang ditakdirkan lahir pulau Sumatera, yang bukan kebetulan dirinya adalah orang Ambon. Dan lebih dari separoh perjalanan hidupnya hingga hari ini, empat dekade lebih ditempa, berproses di tanah Jawa.

William menambahakn, pada titik ini saya memiliki begitu banyak “saudara” yang sesungguhnya bukan dalam artian satu pertalian darah. Yang pada faktanya saya rasakan bahwa begitu banyak orang yang akhirnya menjadi “PELA” bagi saya. Menjadi keluarga di banyak tanah yang dipijak. Tujuh buah karya yang saya hadirkan ini selain berupa catatan, juga sebagai ruang refleksi, serta keinginan bercerita, mengingat banyak hal pada masa penempaan diri, perjumpaan dalam ribuan titik sejauh ini, yang takkan berakhir selama hayat dikandung badan, ataupun sangat mungkin akan dialami anak cucu saya kelak.

“Ada sedikit harapan, kiranya spirit PELA tetap hadir sebagai hal penting untuk terus berusaha ikut menjaga harmoni kehidupan manusia secara luas, meskipun dalam kadar yang sangat kecil. Karena bagi saya, Pela itu adalah rasa hormat. Pela itu adalah guru-guru. Pela itu lebih dari saudara. Pela itu lebih luas dari samudera. Pela itu ribuan pintu kehidupan. Pela itu adalah pengharapan. Pela itu adalah ruang tempa. Pela itu adalah dukungan semesta. Pela itu ruang merawat keberagaman,” pungkas William.*

Komentar