MENYAMBUT peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus mengenang dua abad meletusnya peristiwa bersejarah Perang Diponegoro (1825-1830), Museum dan Cagar Budaya unit Galeri Nasional Indonesia mempersembahkan Pameran “NYALA: 200 Tahun Perang Diponegoro”, sebuah pameran seni dan sejarah yang mengangkat kembali makna perjuangan Diponegoro melalui perspektif visual, artistik dan interdisipliner. Pameran “NYALA” yang dibuka pada Senin (21/7/2025).
“Pameran ‘Nyala’ menjadi bentuk komitmen dari Museum dan Cagar Budaya untuk merawat warisan sejarah bangsa dan menghidupkannya kembali agar dapat diakses, dimaknai, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi hari ini,” kata Abi Kusno selaku Kepala Museum dan Cagar Budaya. Kehadiran pameran ini di Galeri Nasional Indonesia diharapkan dapat diapresiasi secara luas oleh publik sehingga semangat, nilai, dan warisannya menjadi bagian dalam kehidupan kita bersama.
Perang Diponegoro yang terjadi dua abad lalu merupakan salah satu peristiwa monumental dalam perlawanan Nusantara terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Perang ini berlangsung selama lima tahun dan menewaskan hingga ratusan ribu nyawa. Dari peristiwa perang dan sosok Pangeran Diponegoro, Pameran “NYALA” berusaha menggali memori, narasi, dan tafsir yang diterjemahkan para seniman lintas generasi ke dalam karya-karyanya.
Tim Kurator pameran yang terdiri atas Citra Smara Dewi, Dio Pamola Chandra, dan Putra Hidayatullah, telah memilih 28 karya dari 26 perupa untuk ditampilkan dalam Pameran “NYALA”. Karya-karya ini dianggap berhasil menampilkan sosok Pangeran Diponegoro tidak hanya secara literal, namun juga berhasil menelusuri narasi tersembunyi, tokoh-tokoh non-sentral, pengalaman rakyat, suara perempuan, hingga narasi sosiokultural yang terbentuk di sekitar peristiwa Perang Diponegoro dan sosok sang pahlawan. Sehingga, publik nantinya dapat mengambil inspirasi atas semangat perjuangan dan sikap anti-kolonialisme yang menjadi salah satu nilai utama dari peristiwa Perang Diponegoro. Selain itu, melalui karya-karya perupa yang dipilih dari berbagai daerah di Indonesia, pameran ini berusaha menegaskan bahwa nilai-nilai perlawanan, keberanian, dan keteguhan sikap adalah milik kolektif bangsa dan tetap relevan dalam perjalanan kebudayaan kita hari ini.
Direktur Eksekutif Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya Esti Nurjadin menambahkan, dua abad setelah perlawanan Diponegoro, warisan Diponegoro tidak berhenti pada perlawanan terhadap kolonialisme. Ia adalah tokoh sejarah yang tak pernah selesai ditafsirkan. Dalam Pameran ‘NYALA’ ini, sosok Diponegoro dihadirkan bukan hanya sebagai subjek visual, tetapi sebagai medan wacana yang terus memicu tafsir, pemikiran dan ekspresi kreatif. Museum dan Cagar Budaya melihat pentingnya ruang semacam ini untuk memperkaya dialog antara warisan budaya, seni rupa dan identitas bangsa. Harapannya masyarakat dapat melihat relevansi narasi sejarah Nusantara dengan situasi kita saat ini,” kata Esti Nurjadin.
Pameran “NYALA: 200 Tahun Perang Diponegoro” digelar di Gedung A Galeri Nasional Indonesia dan akan berlangsung mulai 22 Juli 2025 hingga 15 September 2025, dengan jam operasional pukul 09.00-19.00 setiap hari, kecuali libur nasional. Pengunjung dapat mengapresiasi pameran dengan melakukan pembelian tiket melalui aplikasi Traveloka dengan harga tiket untuk anak-anak (3-12 tahun) Rp 25.000, dewasa sebesar Rp 50.000, dan Rp 100.000 untuk warga negara asing. Harga tiket ini berlaku untuk menikmati seluruh pameran yang sedang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia.
Informasi lebih lanjut mengenai Pameran “NYALA: 200 Tahun Perang Diponegoro” dapat diakses melalui akun Instagram resmi Galeri Nasional Indonesia @galerinasional.*







Komentar