KKN Kelompok 13 UNMA Banten Gali Potensi Desa Curugciung

BANTEN72 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten menemukan potensi hasil pertanian pisang dan seni pahat kayu dalam observasi awal di Desa Curugciung, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.

Observasi dilakukan sebagai tahap awal untuk mengetahui kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sebelum mahasiswa melaksanakan program kerja di desa tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar warga Curugciung bekerja sebagai petani.

Ketua KKN Kelompok 13 UNMA Banten, Sigit, mengatakan mahasiswa pada awalnya berencana melakukan pendataan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, berdasarkan hasil observasi, belum banyak usaha warga yang dikelola sebagai UMKM secara terstruktur.

Mahasiswa kemudian menemukan bahwa pisang menjadi salah satu hasil pertanian yang cukup banyak dihasilkan warga. Selama ini, hasil panen tersebut umumnya langsung dijual kepada tengkulak dalam kondisi mentah sehingga belum memberikan nilai tambah yang maksimal bagi masyarakat.

Baca juga:  Peserta dari SDN 4, SDN 01 dan SMPN 2 Asal Kota Cilegon Raih Juara

Temuan tersebut akan menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menyesuaikan program kerja dengan kebutuhan warga. Kelompok KKN berencana memberikan pelatihan pengolahan pisang menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Sebagian besar masyarakat di sini bekerja sebagai petani. Pisang menjadi salah satu hasil tani yang cukup banyak, tetapi selama ini langsung dijual kepada tengkulak. Kami ingin mencoba mengajak masyarakat mengolahnya agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” kata Sigit.

Selain potensi hasil pertanian, mahasiswa juga menemukan kerajinan pahat kayu buatan warga Curugciung. Menurut Sigit, hasil pahatan tersebut memiliki kualitas yang sangat baik, nilai seni yang tinggi, dan berpotensi dikembangkan sebagai produk dekorasi atau hiasan rumah.

Baca juga:  Program Wajib Kampus, STKIP Syekh Mansur Terjunkan  Mahasiswa KKN dan PPL

Namun, kerajinan tersebut belum banyak dikenal masyarakat luas. Keterbatasan promosi dan pemasaran dinilai menjadi salah satu penyebab produk seni pahat kayu Curugciung belum memperoleh perhatian yang lebih besar.

“Hasil pahat kayunya benar-benar bagus dan luar biasa untuk dijadikan hiasan rumah. Sayangnya, kerajinan ini belum banyak dilirik orang. Karena itu, kami juga ingin membantu memperkenalkan dan memasarkannya,” ujarnya.

Mahasiswa berencana membantu perajin melalui penguatan identitas produk, pembuatan foto dan katalog digital, promosi melalui media sosial, serta pemanfaatan marketplace. Pendampingan akan disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan perajin.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kerja kelompok yaitu “UMKM Go Digital: Pemberdayaan UMKM melalui Penguatan Branding, Legalitas, dan Pemasaran Digital.” Meskipun belum ditemukan banyak UMKM yang telah berjalan, program diarahkan untuk merintis dan mengembangkan potensi warga menjadi kegiatan usaha yang lebih produktif.

Baca juga:  UNMA Banten Gelar Pesantren Kilat Ramadan

Apabila produk olahan pisang telah terbentuk, mahasiswa juga merencanakan pendampingan dalam pembuatan merek, kemasan, legalitas produk, sertifikasi halal, dan pemasaran digital. Langkah tersebut sejalan dengan tema besar KKN UNMA Banten, yaitu “Smart Village Berbasis Halal.”

Melalui program tersebut, KKN Kelompok 13 UNMA Banten berharap hasil pertanian dan kerajinan lokal tidak hanya dijual secara terbatas, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk unggulan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat Desa Curugciung.*

Komentar