Kelebihan dan Kekurangan PLTN yang akan Dibangun di Bojonegara Provinsi Banten

PEMBANGKIT Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) atau nuclear power plant adalah pembangkit daya termal yang menggunakan satu atau beberapa reaktor nuklir sebagai sumber panasnya. Prinsip kerjanya hampir sama dengan Pembangkilt Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang menggunakan uap bertekanan tinggi untuk memutar turbin. Putaran turbin inilah yang diubah menjadi energi listrik. Pembedanya ialah sumber panas yang digunakan, di mana PLTN menggunakan uranium.

Di kutip dari ESDM.go.id Indonesia sebagai salah satu negara pemilik cadangan uranium yang  melimpah nampaknya akan segera dimanfaatkan oleh pemerintah melalui kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang rencananya akan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai salah satu alternatif sumber energi  terbarukan yang ramah lingkungan. Bahkan saat ini pemerintah tidak lagi menempatkan nuklir sebagai opsi terakhir sumber energi melainkan sebagai energi penyeimbang untuk mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

Tahap pemetaannya pun sudah dilakukan sebanyak 29 di seluruh wilayah Indonesia termasuk di Bojonegara Provinsi Banten dangan target operasional pada tahun 2032. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Agus Puji menyatakan 29 wilayah tersebut sudah di kategorikan aman untuk di dirikan PLTN

“Satu adalah harus bebas dari (potensi) tsunami, dua adalah jauh dari vulcano, tiga adalah jauh dari sesar. Sesar itu adalah ada garis-garis gempa, itu harus paling tidak 5 kilometer,”  seperti dilansir Kabar Banten, Rabu 11 Desember 2024.

Baca juga:  Swasembada Energi Dipercepat, Ketergantungan Impor Kian Ditekan

Dalam setiap pembangunan tentu memiliki kekurangan dan kelebihan, seperti juga pada pembangunan PLTN di Bojonegara Provinsi Banten jika terlaksana.

 

Berikut kelebihan PLTN :

  • Bebas emissi karbon. Pemanasan global yang saat ini terjadi di Indonesia khususnya di Provinsi Banten salah satunya bersumber dari emissi CO2 pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang telah memberikan dampak negatif terhadap udara. Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga nuklir yang tidak menghasilkan karbondioksida.
  • Biaya operasional yang rendah. Tenaga nuklir merupakan salah satu energi yang relatif paling hemat biaya dan dapat diandalkan dibandingkan dengan sumber-sumber energy berkelanjutan lainnya. Hal ini di karenakan komponen reaktor nuklir relatif lebih sedikit di banding dengan jenis pembangkit lain yang mana akan berimabas pada biaya perawatannya.
  • Menghasilkan daya yang tinggi. Pembangkit listrik tenaga nuklir dapat menghasilkan tingkat energi yang tinggi dibandingkan dengan sebagian besar sumber daya (terutama energi terbarukan), yang membuatnya menjadi penyedia beban listrik dasar yang besar. Nuklir memiliki potensi untuk menjadi sumber listrik baseload dengan output tinggi. Dengan sebagai contoh perbandingan 1 kg batu bara hanya dapat menghasilkan energi listrik kurang lebih 12 kWh sedangkan 1 kg uranium-235 dapat menghasilkan energi listrik sebanyak kurang lebih 24.000.000 kWh.
Baca juga:  Reshuffle dan Paradoks Soemitronomics

 

Kekurangan PLTN :

  • Modal yang tinggi. Salah satu komponen yang penting dalam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah reaktor. Reaktor memerlukan tingkat kemanan yang tinggi mengingat perangkat ini merupakan perangkat kompleks sehingga memerlukan biaya yang tinggi ketika perancangan sampai dengan selesai pembangunan.
  • Malfungsi pada reaktor. Ledakan nuklir terjadi ketika reaktor nuklir menghasilkan panas melebihi jumlah panas yang ditransfer oleh sistem pendingin dimana hal ini menyebabkan sistem melebihi titik lelehnya. Jika hal ini terjadi, uap radioaktif panas dapat keluar, yang dapat menyebabkan reaktor nuklir meleleh sepenuhnya dan terbakar, sekaligus melepaskan bahan radioaktif berbahaya ke lingkungan. Hal ini merupakan worst scenario yang mungkin terjadi. Namun tidak perlu khawatir, Indonesia dapat mengambil inspirasi dari negara negara lain seperti Iran, India, bahkan Jepang yang terkenal negara rawan gempa dan tsunami tetapi mereka dapat menjalankan PLTN dengan baik.
  • Limbah nuklir. Persoalan selanjutnya yaitu mengenai limbah nuklir yang merupakan persoalan kompleks. Limbah nuklir adalah produk sampingan yang berbahaya dari pembangkit listrik tenaga nuklir. Limbah nuklir sendiri bersifat radioaktif, menjadikannya ancaman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Juga untuk menangani limbah nuklir dengan benar membutuhkan kehati-hatian serta teknologi yang mumpuni. Alasan inilah yang membuat pertimbangan pemerintah yang nantinya harus mengeluarkan anggaran yang lumayan besar untuk memproses dan membuang bahan bakar nuklir yang sudah tidak terpakai dengan aman.
Baca juga:  Komitmen Perlindungan HAM Sesuai Aspirasi 17+8

Pemanasan global yang bersumber dari emissi CO2 pembangkit listrik berbahan bakar fosil telah memberikan dampak negatif terhadap Negara Indonesia khususnya di wilayah Bojonegara Provinsi Banten. Maka dari itu pemerintah perlu mempertimbangkan sumber energi baru yang mampu mencegah semakin parahnya pemanasan global di Indonesia. Salah satu opsi yang dapat di pertimbangkan adalah PLTN. Indonesia memiliki potensi besar untuk mewujudkan pembangunan PLTN sebagai alternatif untuk melakukan transisi energi hijau di karenakan ketersediaan bahan bakar nuklir yang memadai, lokasi yang strategis, teknologi yang cukup matang dan adanya dukungan dari masyarakat. Namun, ada beberapa tantangan yang harus di hadapi seperti regulasi sumber daya manusia dan modal yang cukup besar dalam tahap pembangunannya. Dalam mencapai transisi hijau melalui PLTN Indonesia dapat mengambil inspirasi dari negara negara lain seperti Iran, India bahkan Jepang yang diamana negaranya rawan gempa dan tsunami tetapi mereka mampu menjalankan PLTN dengan baik. Dengan mengadopasi strategi yang tepat maka rasa optimis timbul bahwa Indonesia dapat melaksanakan program PLTN dengan  baik sebagai langkah untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pasa tahun 2060.*

 

Penulis, Mahasiswa Teknik Kimia Universitas  STT Fatahillah Cilegon

Komentar