Jejak Syekh Asnawi, Sanghyang Sirah, dan  Keajaiban Geopark Ujung Kulon

Oleh: Bung Eko Supriatno

Manager Pendidikan, Kebudayaan, Pemberdayaan Masyarakat, dan Peran Perempuan Badan Pengelola Geopark Nasional Ujung Kulon (BPGNUK)

GEOPARK Ujung Kulon bukan sebatas tempat dengan keindahan alamnya yang menakjubkan, melainkan sebuah kisah panjang yang menunggu untuk diungkap. Setiap jejak yang ditinggalkan oleh angin dan air, setiap lapisan batuan yang terbentuk selama jutaan tahun, menyimpan cerita-cerita yang lebih dari sekadar asal-usul alamnya. Ini adalah perjalanan spiritual dan budaya yang membentuk masyarakatnya, dengan tanah yang menyimpan warisan sejarah bangsa yang berdiri teguh. Ujung Kulon adalah cermin dari hubungan manusia dengan alam yang harus tetap dijaga agar tetap harmonis.

Membaca Ujung Kulon tidak cukup hanya dengan mata wisatawan. Ia harus dibaca dengan kesadaran sejarah, dengan kepekaan ekologis, dan dengan keberanian melihat bahwa lanskap bukan benda mati. Di sana, alam tidak hanya menghadirkan panorama, tetapi juga menyimpan ingatan: tentang letusan, pengungsian, pesantren yang dibangun kembali, perlawanan terhadap kolonialisme, ziarah spiritual, serta keyakinan masyarakat yang hidup berdampingan dengan batu, hutan, laut, dan mitos.

Geopark Ujung Kulon menjadi penting bukan semata karena ia indah, melainkan karena ia mempertemukan tiga kekuatan besar: warisan geologi, warisan budaya, dan warisan spiritual. Ketiganya tidak boleh dipisahkan. Jika alam hanya diperlakukan sebagai objek wisata, maka kita kehilangan kedalaman. Jika sejarah hanya dipajang sebagai cerita masa lalu, maka kita kehilangan arah. Jika spiritualitas hanya dibaca sebagai mitos, maka kita gagal memahami cara masyarakat menjaga hubungan batin dengan ruang hidupnya. Oleh karena itu, Ujung Kulon harus ditempatkan sebagai ruang peradaban.

Ujung Kulon adalah bukan hanya destinasi, melainkan halaman terbuka dari sejarah Banten, Jawa, dan Indonesia. Di dalamnya ada nama-nama, tempat-tempat, dan kisah yang menuntut penghormatan: Kiai Asnawi Caringin, Sanghyang Sirah, Masjid Salafiah, Prabu Siliwangi, serta masyarakat yang terus menjaga ingatan kolektifnya. Inilah kawasan yang mengajarkan bahwa konservasi bukan hanya menjaga satwa dan batuan, tetapi juga menjaga martabat manusia, memori perjuangan, dan harmoni antara alam dengan kebudayaan.

Baca juga:  Kebijakan Efisiensi Energi Perkuat Stabilitas

 

Syekh Asnawi dan Keharmonisan Alam-Budaya

Syekh Asnawi, lebih dari seorang pemimpin agama, menjadi jembatan antara spiritualitas dan budaya lokal. Ajarannya membentuk pemahaman masyarakat tentang alam, mengajarkan mereka untuk hidup harmonis dengan bumi, serta mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal menjaga bumi, tetapi juga menjaga keseimbangan alam semesta.

Asnawi lahir dari pasangan Abdurrahman dan Ratu Sabi’ah. Dari pihak ayah, nasabnya bersambung ke Sultan Banten, sedangkan dari pihak ibu, ke Sultan Agung Mataram. Sejak usia sembilan tahun, Asnawi dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu di Mekkah, berguru kepada tokoh-tokoh besar seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Kiai Cholil Bangkalan, dan Hadratusysyekh Hasyim Asy’ari. Selain ilmu agama, Asnawi juga mempelajari tarekat kepada Syekh Abdul Karim Tanara, ulama Banten yang bermukim di Makkah.

Setelah bertahun-tahun belajar, Asnawi kembali ke kampung halamannya pada tahun 1870 dan mendirikan pesantren yang dikenal dengan ilmu fiqih, tasawuf, dan ilmu beladiri. Ketika gunung Krakatau meletus, pesantren Asnawi hancur, namun ia membangunnya kembali. Masjid Salafiah yang ia dirikan, dengan arsitektur campuran lokal dan luar, masih berdiri hingga kini, menjadi simbol perjuangan dan kekuatan spiritualnya.

 

Sanghyang Sirah dan Keindahan Alam yang Mistis

Sanghyang Sirah adalah situs sakral di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, yang diyakini sebagai “Kepala Pulau Jawa”. Secara administratif terletak di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, dengan makna “Sanghyang” yang berarti suci dan “Sirah” yang berarti kepala.

Situs ini dikenal sebagai destinasi ziarah dengan gua petilasan Prabu Siliwangi dan tempat berkumpulnya para wali. Keunikan geologisnya, dengan gua laut yang terbentuk akibat abrasi, menjadi daya tarik tersendiri.

Keindahan alam di sekitar kawasan ini, dengan pesisir berbatu dan tebing tinggi, menjadikannya sebagai permata tersembunyi yang tak hanya memikat pecinta alam, tetapi juga menarik peziarah yang mencari kedamaian batin. Akses menuju Sanghyang Sirah cukup menantang, memerlukan perjalanan laut dengan perahu atau trekking melalui hutan, yang justru menambah kesan mistis dan menarik bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman spiritual yang mendalam.

Baca juga:  Spirit Profetik Maulid

 

Pelajaran dari Ciletuh Sukabumi

Keberhasilan Geopark Ciletuh, yang meraih status UNESCO Global Geopark pada 2018, memberi pelajaran penting dalam pengelolaan geopark yang melibatkan komunitas lokal. Ciletuh menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya bergantung pada konservasi alam, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Bagi Geopark Ujung Kulon, yang memiliki potensi besar, ini adalah pelajaran berharga yang harus diambil untuk mengembangkan model pengelolaan yang lebih terintegrasi, menggabungkan ekowisata dengan pemberdayaan lokal.

Keberhasilan Ciletuh bukan hanya pada statusnya, tetapi pada bagaimana komunitas lokal bisa berperan aktif dalam menjaga alam sambil mendapatkan keuntungan dari wisata dan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Ujung Kulon harus mampu mengembangkan konsep pengelolaan yang tidak hanya mengandalkan konservasi alam, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar.

 

Mewujudkan Keberlanjutan Melalui Kolaborasi

Keberlanjutan Geopark Ujung Kulon bukan hanya terletak pada keindahan alam dan kekayaan geologi yang dimilikinya, tetapi pada bagaimana kita mengelola kawasan ini dengan bijak. Konservasi alam memang menjadi fondasi utama, namun tanpa pemberdayaan masyarakat lokal, segala potensi yang ada akan sia-sia. Pembangunan infrastruktur yang menghubungkan Ujung Kulon dengan wilayah sekitar menjadi langkah strategis untuk mendongkrak ekonomi lokal dan meningkatkan aksesibilitas bagi wisatawan. Namun, keberlanjutan bukan hanya soal jalan yang mulus atau fasilitas yang memadai, tetapi tentang kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kelestarian alam sambil menjaga keberlanjutan ekonomi bagi masyarakat.

Geopark Ujung Kulon harus menjadi simbol konservasi global yang memberi manfaat jangka panjang bagi ekonomi lokal dan pendidikan geologi. Ini adalah model bagi dunia tentang bagaimana menjaga warisan alam dan budaya untuk generasi mendatang. Untuk mencapai hal ini, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

Baca juga:  Memastikan Alokasi Rumah Subsidi Untuk Kelompok Buruh

Namun, perjalanan menuju keberlanjutan ini tidak akan mudah. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemberdayaan. Ujung Kulon, seperti Ciletuh, harus menunjukkan bahwa keberlanjutan bukanlah pilihan, tetapi keharusan yang tak bisa ditawar lagi.

 

Menghadapi Tantangan Global

Seiring dengan perubahan iklim dan tantangan global lainnya, pengelolaan Geopark Ujung Kulon harus lebih adaptif dan responsif terhadap perkembangan zaman. Kita tidak bisa hanya terpaku pada kondisi saat ini, tetapi harus berpikir jauh ke depan tentang bagaimana geopark ini bisa berkembang tanpa merusak keindahan dan kelestarian alamnya. Ini adalah tantangan besar yang harus dihadapi dengan serius oleh semua pihak yang terlibat.

Selain itu, keberlanjutan juga harus dilihat dalam konteks global. Ujung Kulon adalah bagian dari jaringan geopark dunia yang saling terhubung dan memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman hayati global. Oleh karena itu, pengelolaan yang cerdas dan berkelanjutan tidak hanya akan memberi manfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi dunia secara keseluruhan.

Geopark Ujung Kulon bukan hanya objek wisata, tetapi bagian dari peradaban manusia yang harus dipelihara dengan kerja sama harmonis antara alam, masyarakat, dan ilmu pengetahuan. Keberlanjutan bukanlah tugas satu pihak saja, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan komitmen untuk masa depan yang lebih baik.

Ujung Kulon bukan hanya akan dikenal sebagai Geopark UNESCO, tetapi juga sebagai contoh nyata tentang bagaimana menjaga keberagaman alam dan keberagaman budaya dalam satu wadah yang saling menguntungkan. Saatnya melangkah maju, menjaga warisan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.*

Komentar