Duet Rano-Irna Bisa Terjadi di Pilgub Banten

Sementara itu pengamat  politik dari Universitas Mathla’ul Anwar Banten, Eko Supruatno menyatakan bahwa  PDIP butuh usaha besar jika mau memajukan Pilgub Banten 2024. Rano Karno saya pikir terbilang masih belum memiliki ekspos dan kinerja. Artinya, jika pun PDIP mencalonkan Rano sebagai Gubernur Banten, tentu akan dibutuhkan effort yang lebih besar dalam menaikkan elektabilitasnya. 

Ia juga menilai sinyal mengembalikan kekuasaan Banten ke tangan partai besutan Megawati Soekarnoputri itu ditunjukkan dengan mempersiapkan kader terbaik, jauh-jauh hari. 

Menurut Eko bahwa Rano terlihat sangat dekat dengan Zaki Iskandar, penerus politik trah Ismet Iskandar. Kekuatan Rano sebagai mantan wakil gubernur dan Plt Gubernur Banten setidaknya memiliki peluang yang besar untuk mendapatkan respon publik. 

Ditambah dengan kekuatan partai politik PDIP yang saat ini semakin solid dalam merencanakan dan memantapkan kemenangan politik elektoral di semua tingkatan. 

Namun   problem Zaki, setidaknya Golkar sudah memutuskan mengusung Airin Rachmi Diany sebagai bakal calon gubernur Banten pada Pilkada 2024.

Baca juga:  Pilgub Banten 2024, Dimyati - Airin  Berpotensi Jadi Rival

Eko juga menilai bahwa Rano Karno juga memiliki modal popularitas untuk maju sebagai calon gubernur. Berdasarkan survey Kadaka Research and Consulting Januari lalu, Rano dipilih mayoritas publik di Banten sebagai calon gubernur. Pencalonan Rano Karno akan bergantung pada daya tawar yang ia miliki untuk daerah tempatnya maju. 

PDI Perjuangan bersikap hati-hati menghadapi Pilgub Banten. Selama ini, PDI Perjuangan kan selalu di detik terakhir dalam mengusung calon. Sebenarnya ada banyak alasan PDI Perjuangan belum juga menentukan kandidat yang dijagokannya pada Pilgub Banten 2024 meski secara figur sudah ada sosok “pejawat” yang berpeluang. Kalau secara popularitas, Rano Karno sebenarnya masih kuat untuk diusung kembali. 

Namun, kata Eko, faktor-faktor yang akan berpengaruh pada elektabilitas nantinya akan tetap diperhitungkan. Bisa juga ada tarik ulur. Apalagi, tidak menutup kemungkinan PDI Perjuangan menjagokan kalangan eksternal, seperti purnawirawan Polri, sebagaimana dilakukannya di provinsi lain.

Baca juga:  Jelang HUT ke-23 Provinsi Banten, Hj Ida: Semoga Membawa Kemakmuran dan Kemajuan

“Saya kira modal politik dari PDI Perjuangan lebih dari cukup. Sebagai partai bermartabat dan memiliki kedaulatan maka wajib mengusung kader internal terbaiknya sebagai gubernur dan wakil gubernur. Tidak ada alasan tidak percaya diri mengusung kadernya,” ujarnya.

Ia menyatakan Pilgub Banten 2024 akan lebih kompetitif lantaran dipimpin penjabat gubernur. Pilgub Banten 2024 adalah pertarungan trah politik keluarga di Banten. Tentunya akan semakin menarik. Trah politik keluarga itu berseteru dan juga ada yang bergabung, maka lakon politik natinya makin kentara dan seru.

Bahkan pada Pilkada di zaman modern, semua sudah bisa diukur dengan ilmu pengetahuan dan metode yang teruji.  Majunya seseorang di pilkada pertama-tama tidak diukur dari tinggi atau rendahnya level posisi yang diperebutkan. Namun dari kemampuan figur, penerimaan pemilih, kemudian popularitas dan elektabilitas.

Sementara itu sejumlah parpol petarung sudah mulai merancang strategi. Golkar, PDIP, Gerindra, PKB, Demokrat dan PKS, disebut-sebut bakal jadi kunci persaingan sengit tersebut. Peta koalisi partai politik pada pemilihan serentak kepala daerah 2024 mendatang ditentukan oleh hasil pemilu. Berbeda dengan pencalonan untuk pemilihan presiden (pilpres) 2024, yang mana mengacu pada hasil pemilihan presiden sebelumnya yakni 2019.

Baca juga:  Iing Andri Supriadi, Dari Aktivis Maju Legislatif Hingga Jadi Wakil Bupati Pandeglang Periode 2025-2030

Dilihat dari potensinya para tokoh yang diisukan akan maju dalam pilkada masih menyertakan tokoh-tokoh lama sebelumnya. Sebut saja Wahidin Halim dan Rano Karno. Selain Wahidin Halim dan Rano Karno, muncul nama lain yang diperbincangkan yakni Arief Wismansyah, Walikota Tangerang, Iti Jayabaya, Irna Narulita, dan Bupati Lebak. Ketiganya juga sudah menjabat dua periode sehingga dipandang sepantasnya maju dalam kontestasi pilgub. 

Nama lain yang dipandang layak maju dengan alasan yang sama adalah Ratu Tatu Chasanah dan Airin Rachmi Diany. Keduanya sudah dua periode menjabat sebagai kepala daerah dan sama-sama berpengalaman memimpin birokrasi dan partai politik. (Bt72)***

Komentar