Dikatakan Helena, kegiatan ini bertujuan untuk melahirkan penulis-penulis konten muda yang paham akan hukum, sehingga kedepan para santri dapat mengedukasi masyarakat luas.
“Membuat konten itu tidak boleh berbau sara atau hoax dan lain sebaginya. Maka dari itu, kita berharap kedepan akan muncul para penulis-penulis muda dari pesantren yang karya-karyanya bisa mendunia,”ungkapnya.
Sementara itu, Socio Eco Journalist National Geographic Indonesia Didi Kasim menilai, bahwa kegiatan ini merupakan sebuah inovasi baru didunia pendidikan untuk mengedukasi para santri di Pesantren.
“Awalnya saya tidak menduga bahwa kegiatan ini bisa dilakukan di pesantren, jadi menurut saya ini merupakan sebuah inovasi pendidikan untuk mengangkat minat bertutur atau story telling anak-anak melalui sebuah konten tulisan,”kata Didi.
Selain itu, kegiatan ini juga dapat membuka sudut pandang para santri tentang penulisan konten yang sesuai dengan kaidah penulisan. Serta tidak bertentangan dengan hukum.
“Jadi kegiatan ini dapat membuka sudut pandang baru bagi para santri untuk memiliki minat menulis dan bercerita lebih baik, yang diharapkan kedepan karya-karyanya bisa membawa dampak positif untuk negri ini,”ujarnya.





Komentar