Dalam kesempatan itu Dadi Ahmad Roswandi mengungkapkan bahwa Banten masuk zona merah stunting dan gizi buruk. Penanganan masalah ini membutuhkan banyak pihak yang terlibat.
“Istilah kita butuh tenaga keroyokan untuk mengatasi stunting ini karena penyebabnya amat beragam dan penangannya butuh waktu yang cukup panjang. Mulai dari kesadaran gizi orang tua calon bayi, sanitasi rumah yang buruk, hingga keterbatasan ekonomi keluarga. Karenanya butuh disentuh masalah pemahamannya, masalah ekonominya hingga intervensi pada peningkatan gizi keluarganya,” ujar Ahmad Roswandi lagi menegaskan.
Koordinator bidang KSPK di BKKBN Perwakilan Banten Dian Rosyaningsih mengungkapkan ada beberapa program yang bisa dikolaborasikan dengan Baznas Banten terkait pengentasan stunting dan gizi buruk ini. Diantaranya adalah program Bapak Asuh melalui kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).
“Program DASHAT ini merupakan Bapak Asuh yang berdonasi membiayai penanganan satu keluarga stunting atau lebih. Baznas tentu bisa menjadi bapak asuh untuk keluarga stunting ini. Menurut hitungan kami, setiap hari satu keluarga stunting membutuhkan biaya Rp 15 ribu dan berlangsung selama 6 bulan,” ujarnya.





Komentar