BANTEN72 – Kabupaten Pandeglang tidak hanya memiliki kekayaan alam dan destinasi wisata, tetapi juga menyimpan berbagai jejak sejarah dan peradaban Islam yang memiliki nilai pengetahuan bagi generasi mendatang.
Salah satunya adalah Masjid Kuno atau Masjid Baetul Arsy yang berada di kawasan Pasir Angin, di badan Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang. Keberadaan masjid yang diyakini telah berusia ratusan tahun tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Pandeglang memiliki perjalanan sejarah Islam yang cukup panjang.
Anggota DPRD Kabupaten Pandeglang dari Fraksi Golkar, Riza Juli, menilai keberadaan Masjid Kuno Pasir Angin memiliki nilai sejarah dan edukasi yang sangat penting. Menurutnya, masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi sumber literasi sejarah sekaligus dikembangkan sebagai destinasi wisata religi.
“Pandeglang memiliki banyak nilai sejarah Islam yang perlu terus digali dan diperkenalkan kepada masyarakat. Masjid Kuno Pasir Angin ini salah satunya. Keberadaannya bisa menjadi literasi pengetahuan bagi masyarakat sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata religi,” kata Riza Juli kepada Banten72.com, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Riza, keberadaan masjid kuno tersebut menjadi semakin menarik karena bangunan dan karakter tradisionalnya masih terjaga. Kondisi tersebut menjadi bagian penting yang harus dipertahankan agar nilai sejarah yang melekat pada masjid tidak hilang akibat perubahan zaman.
“Kami merasa bangga bahwa di Pandeglang ada Masjid Kuno yang berada di kawasan Gunung Karang dan bangunannya masih mempertahankan karakter aslinya. Kalau benar telah berusia ratusan tahun, tentu ini merupakan warisan sejarah yang sangat berharga,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelestarian Masjid Kuno Pasir Angin harus menjadi perhatian bersama.
Pemerintah daerah, masyarakat, tokoh agama, serta pemerhati sejarah diharapkan dapat bersinergi untuk menjaga keberadaan bangunan tersebut.
Riza juga mendorong agar potensi sejarah dan religi yang dimiliki Masjid Kuno Pasir Angin dapat diperkenalkan secara lebih luas, terutama kepada generasi muda. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya datang untuk berwisata, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai sejarah perkembangan Islam di Pandeglang.
“Jangan sampai generasi muda justru tidak mengetahui bahwa di wilayahnya sendiri terdapat peninggalan sejarah yang begitu berharga. Karena itu, perlu ada upaya untuk memperkenalkan dan memberikan edukasi mengenai sejarah Masjid Kuno ini,” katanya.
Ia berharap pengembangan wisata religi tidak dilakukan dengan menghilangkan keaslian maupun nilai sejarah bangunan. Sebaliknya, pengelolaan harus mengedepankan prinsip pelestarian sehingga masjid tetap menjadi warisan sejarah sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Yang paling penting adalah menjaga keaslian dan nilai sejarahnya. Kalau dikembangkan sebagai wisata religi, jangan sampai justru menghilangkan karakter dan nilai sejarah yang ada. Pelestarian harus menjadi prioritas,” tegas Riza.
Masjid Kuno Pasir Angin sendiri disebut memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin menelusuri jejak sejarah Islam di Pandeglang. Bahkan, keberadaannya disebut telah menarik perhatian sejumlah wisatawan dan pencinta wisata religi dari luar daerah.
Namun demikian, Riza menilai masih banyak masyarakat Pandeglang yang belum mengetahui keberadaan masjid tersebut. Karena itu, diperlukan promosi dan publikasi yang lebih masif agar peninggalan sejarah tersebut semakin dikenal.
“Potensi seperti ini harus kita angkat bersama. Pandeglang memiliki kekayaan sejarah, budaya dan religi yang bisa menjadi daya tarik tersendiri. Tinggal bagaimana kita menjaga, mengemas dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas,” pungkasnya.(Bt72)***






Komentar