Seba Baduy: Jejak Sunyi Pesan Bumi

Oleh: Ahmad Satori

 

 

 

Langkah Tanpa Jejak

Di tanah yang diam kutemukan doa,

dari kaki telanjang yang tak ingin melukai.

Baduy berjalan, bukan sekadar menuju kota,

tapi mengantar pesan “alam bukan warisan, melainkan titipan”.

Hutan bukan hiasan dalam cerita,

ia hidup, ia bernapas, ia luka.

Dan mereka, yang memilih sunyi,

justru paling lantang mengingatkan kita: “Leuweung ruksak, cai beak, manusa cilaka”.

 

 

BAYANGKAN sebuah pagi yang belum sepenuhnya terjaga. Embun menggantung di ujung-ujung dedaunan seperti kristal kecil yang enggan terjatuh, sementara cahaya mentari perlahan menyusup ke sela-sela pepohonan hutan Kanékés. Udara masih basah, harum tanah yang baru saja bernafas setelah malam yang sunyi. Dari kejauhan, terdengar langkah kaki yang pelan namun pasti.

Tidak ada deru kendaraan. Tidak ada alas kaki yang melindungi dari kerikil atau duri. Hanya desir angin yang berbisik di antara pepohonan, kicauan burung hutan, dan langkah-langkah ringan yang meninggalkan jejak tak terlihat. Itulah para warga Baduy Dalam yang tengah memulai perjalanan suci mereka: Seba Baduy.

Di dunia yang memuja kecepatan, efisiensi, dan teknologi, Baduy hadir sebagai kontras yang menenangkan. Dalam pelan mereka, tersembunyi ketekunan. Dalam diam mereka, terdapat kebijaksanaan. Dalam kesederhanaan mereka, tersimpan kedalaman makna hidup yang tak mudah dipahami oleh dunia luar.

Seba Baduy bukanlah sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah simbol. Sebuah pernyataan sunyi yang lebih lantang dari ribuan teriakan, bahwa manusia telah terlalu lama menyakiti alam, dan bahwa sudah waktunya untuk kembali mendengar suara bumi.

Setiap tahun, ratusan warga Baduy Dalam dan Baduy Luar melakukan ritual Seba. Mereka berjalan kaki dari kampung-kampung pedalaman di Kanékés, Kabupaten Lebak, menuju pusat pemerintahan Kabupaten Lebak di Rangkasbitung, bahkan hingga ke Provinsi Banten di Serang. Ini bukan demonstrasi. Mereka tidak datang untuk menuntut. Mereka datang untuk mengabdi. Untuk menyampaikan amanah yang mereka terima dari bumi yang mereka jaga penuh cinta dan penghormatan.

Dalam perjalanan itu, mereka membawa hasil bumi: pare ageung (beras khas Baduy), gula aren, madu hutan, pisang, dan buah-buah hasil rimba lainnya. Namun lebih dari itu, mereka membawa pesan. Pesan dari hutan yang rantingnya semakin jarang. Dari sungai yang airnya mulai keruh. Dari tanah yang mulai menua dan letih menopang kerakusan manusia modern.

Baca juga:  Buka APKI Banten Fest 2025, Wagub: Semoga Pengawas Ketenagakerjaan Makin Solid

“Inget ka alam, lamun hayang hirup salamet.” (Ingatlah kepada alam jika ingin hidup selamat). Kalimat sederhana ini selalu diucapkan para tetua adat Baduy. Mereka tidak memiliki mikrofon. Tidak tampil dalam konferensi internasional. Tidak disorot kamera. Tapi langkah kaki mereka adalah jeritan sunyi dari bumi yang terluka. Diam mereka adalah peringatan dari alam yang mulai lelah.

Masyarakat Baduy memegang teguh sebuah filosofi hidup yang sarat nilai-nilai ekologis dan spiritual. Mereka tidak melihat diri mereka sebagai penguasa atas alam, melainkan sebagai bagian darinya. Dalam ajaran mereka, manusia dan alam adalah satu kesatuan. Hidup selaras, bukan menaklukkan. Memelihara, bukan mengeksploitasi.

“Gunung ulah dilebur, leuweung ulah diruksak, sagara ulah dicemar.” (Gunung jangan dihancurkan, hutan jangan dirusak, laut jangan dicemari). Ini bukan hanya semboyan, tapi pedoman hidup. Warga Baduy tidak menebang pohon sembarangan, tidak menggunakan pupuk atau pestisida kimia, tidak merusak tanah demi hasil cepat. Mereka bahkan tidak menggunakan sabun saat mandi di sungai. Karena bagi mereka, sungai bukan tempat buang, tapi tempat tumbuh.

Dalam masyarakat modern, nilai-nilai ini tampak seperti utopia. Dunia berlomba menciptakan teknologi hijau, padahal akar dari keberlanjutan adalah kesadaran dan penghormatan. Kita membuat aturan pengelolaan lingkungan, tapi kerap melanggarnya.

Kita bangga memakai produk ramah lingkungan, tapi tetap membuang sampah plastik sembarangan. Sementara warga Baduy, dalam diamnya, mengamalkan nilai-nilai ekologis yang telah diwariskan turun temurun. Tidak demi status, tidak demi pujian, melainkan karena itu adalah cara hidup yang benar.

Salah satu aspek paling menyentuh dari Seba Baduy adalah keputusan mereka untuk berjalan kaki tanpa alas. Bukan karena tidak mampu membeli sandal atau sepatu, tetapi karena mereka memilih untuk tidak menyakiti bumi.

Tanah bagi mereka adalah ibu, Suci. Menginjaknya dengan alas, apalagi dengan kendaraan, adalah bentuk tidak hormat. Maka, meskipun harus menempuh perjalanan puluhan kilometer di bawah terik matahari, melewati jalan aspal yang panas dan kasar, mereka tetap melangkah tanpa keluh.

Baca juga:  Organisasi M3P Dorong Duet Rano-Irna, Berpotensi Kuasi Pemilih Banten Utara dan Selatan

Mereka hadir di tengah keramaian kota dengan kesunyian yang anggun. Di hadapan pejabat, mereka menunduk rendah. Bukan karena merasa rendah diri, tetapi karena kesadaran akan posisi manusia dalam semesta. Ketika orang-orang sibuk mencari pencitraan, warga Baduy datang membawa ketulusan. Di saat banyak yang mengejar kepentingan pribadi, mereka membawa pesan kolektif untuk menyadarkan kita semua: bahwa jika kita terus memunggungi alam, maka kita sedang berlari menuju kehancuran.

Ironi yang menyayat dari kisah ini adalah betapa kontrasnya kita dengan mereka. Kita, yang katanya modern, justru menjadi penyumbang terbesar kerusakan lingkungan. Kita membuang sampah di sungai, menebang hutan demi proyek, mencemari laut dengan limbah industri, lalu bersikap seolah semua baik-baik saja. Kita punya listrik, tapi hati kita gelap. Kita punya kendaraan canggih, tapi arah hidup kita salah. Kita hidup nyaman, tapi lingkungan sekitar menderita.

Sebaliknya, Baduy hidup tanpa listrik, tapi hatinya terang. Tidak punya kendaraan, tapi arah langkahnya benar. Tidak memiliki gedung megah atau gawai canggih, tapi mereka hidup dalam keseimbangan dengan alam.

Petuah mereka sederhana namun dalam: “Hirup kudu leutik tapak, ulah ngabalukarkeun cilaka.” (Hidup harus berjejak ringan, jangan sampai menyebabkan bencana). Ini adalah ajakan untuk hidup sadar. Untuk tidak menyakiti bumi dengan cara hidup kita.

Di zaman ketika krisis lingkungan menjadi bagian dari berita harian, banjir bandang, kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, krisis air bersih, apa yang ditunjukkan oleh warga Baduy adalah bentuk kearifan lokal yang sangat relevan. Ini bukan hukuman dari alam, tapi konsekuensi dari ulah manusia. Alam tidak marah. Alam hanya menyeimbangkan kembali. Dan ketika keseimbangan itu terganggu, manusialah yang pertama kali merasakan dampaknya.

Seba Baduy, dengan segala kesederhanaannya, sejatinya adalah alarm. Ia adalah peringatan dini bahwa jika kita tidak segera memperbaiki cara hidup kita, maka generasi mendatang hanya akan mewarisi reruntuhan. Mereka tidak meminta kita kembali ke hutan atau meninggalkan teknologi. Tapi mereka mengajak kita untuk menghidupi nilai-nilai luhur: kesadaran, kesetiaan pada alam, dan keberanian untuk tidak menyakiti.

Baca juga:  Pembaharuan Infrastruktur Dukung Program Swasembada Pangan

 

Apa yang bisa kita pelajari dari masyarakat Baduy?

Pertama, kesederhanaan sebagai kekuatan. Mereka hidup cukup. Bukan dalam kekurangan, tetapi dalam rasa cukup yang membawa kedamaian. Mereka punya cukup pangan, cukup ruang hidup, cukup makna. Dalam cukup, ada keharmonisan.

Kedua, ketulusan dalam menjaga lingkungan. Mereka tidak sibuk mengampanyekan peduli lingkungan. Mereka adalah lingkungan itu sendiri. Hidup mereka adalah praktik nyata dari keselarasan ekologis.

Ketiga, konsistensi nilai. Zaman boleh berubah, tren boleh silih berganti, tapi mereka tetap teguh pada nilai. Bagi mereka, nilai lebih penting dari modernitas. Dan keempat, bahasa tubuh yang lebih kuat dari kata-kata. Mereka tidak banyak berbicara. Tapi setiap langkah mereka adalah bahasa universal yang menggetarkan: bahasa bumi, bahasa kehidupan.

Ketika warga Baduy berjalan, bumi seolah ikut berbisik, “Dengarkan kami… Sebelum semuanya benar-benar terlambat.”

“Ulah matak cilaka ka diri sorangan, ulah matak cilaka ka alam sakitu legana.” (Jangan menyusahkan diri sendiri, dan jangan menyusahkan alam semesta). Petuah ini menjadi penutup sekaligus pembuka bagi kita untuk merenung.

Bahwa cinta kepada bumi tidak harus berupa proyek-proyek besar. Tidak harus ditunjukkan dengan jargon atau kemasan kampanye yang megah. Tapi bisa dimulai dari kesadaran kecil. Dari langkah ringan yang tidak menyakiti. Dari keputusan sederhana untuk hidup lebih bijak.

Seba Baduy bukan sekadar perjalanan tahunan. Ia adalah cermin. Cermin yang memperlihatkan siapa kita, bagaimana cara kita hidup, dan ke mana arah yang sedang kita tuju. Dan semoga, setelah kita melihatnya, kita tak hanya tergetar sesaat, tapi juga mulai melangkah dalam hidup yang lebih sadar, lebih arif, dan lebih menghargai bumi yang menjadi rumah satu-satunya bagi kita semua.*

 

Penulis, Mahasiswa Magister Studi Lingkungan Universitas Terbuka, ASN pada Pemerintah Provinsi Banten

Komentar