Museum Nasional Indonesia Hadirkan Narasi Budaya Lewat Koleksi Lampu dan Koleksi Numismatik

BANTEN72 – Museum Nasional Indonesia (MNI), unit museum yang kini di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya (MCB), Kementerian Kebudayaan, memperingati Hari Ulang Tahun ke-248 pada 24 April 2026. Momentum ini merupakan sebuah refleksi atas perjalanan panjangnya sejak berdiri pada 1778 sebagai lembaga kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Batavia.

Memasuki usia ke-248 tahun, MNI tidak hanya menegaskan perannya sebagai simbol identitas nasional, tetapi juga sebagai ruang yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Peringatan ini sekaligus menandai transformasi MNI menjadi museum modern yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Seiring proses transformasi tersebut, berbagai pembaruan terus dilakukan untuk untuk meningkatkan kenyamanan serta pengalaman pengunjung. Di antaranya penataan akses masuk melalui Hall Majapahit, penambahan ibadah “Masjid Samudera Pasai”, dibukanya beragam pameran, serta pembangunan perpustakaan sebagai ruang literasi publik.

Perjalanan panjang MNI tidak lepas dari dukungan dan kolaborasi berbagai pihak. Proses revitalisasi melibatkan pemerintah, komunitas budaya, lembaga internasional, ahli sejarah, dan arsitek. Setiap pemangku kepentingan berperan dalam kontribusi terhadap desain, implementasi, dan dukungan keberlanjutan proyek. Kolaborasi ini juga memperkuat semangat kebersamaan dalam pelestarian warisan budaya nasional.

Baca juga:  Mengantisipasi Dampak Global, Pemerintah Pastikan Stabilitas Ekonomi dan Rupiah Terjaga

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menyampaikan bahwa penguatan peran museum saat ini tidak hanya terletak pada koleksi, tetapi juga pada cara museum berinteraksi dengan publik. “Tantangan ke depan adalah bagaimana museum dapat terus relevan di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih terbuka, partisipatif, dan berbasis pengalaman menjadi kunci agar museum tetap hidup dan bermakna bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-248, MNI, yang berada di bawah naungan MCB, Kementerian Kebudayaan, menyelenggarakan dua pameran yang memadukan estetika masa lalu dan makna budaya. Pameran tetap “Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang” dan pameran tetap Numismatik mengajak masyarakat untuk melihat sejarah dari sudut pandang yang berbeda.

Baca juga:  Pemerintah Akan Hapus Outsourcing Untuk Keadilan Ketenagakerjaan

 

Pameran Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang

Pameran “Pendar” menampilkan koleksi lampu dari masa abad ke-9 Masehi. “Pendar” mengajak pengunjung menyelami beragam lampu dari masa ke masa. Tidak hanya sebagai alat penerang, koleksi lampu yang ditampilkan mencerminkan kesinambungan tradisi dalam kehidupan sosial dan religius masyarakat masa lampau. Melalui kemajuan teknologi metalurgi pada masanya serta memadukan fungsi, estetika, dan spiritualitas, sehingga menampilkan ragam lampu dengan variasi bentuk yang menggambarkan identitas sosial maupun gaya hidup.

 

Pameran Numismatik: Sejarah Perjalanan Mata Uang Indonesia

Berbeda dengan pendekatan sejarah, pameran tetap Numismatik kali ini hadir dengan sudut pandang budaya. MNI tidak hanya menampilkan deretan uang sebagai alat tukar, tetapi sebagai artefak budaya yang menjadi penanda nilai, kekuasaan, serta identitas sejarah.

Baca juga:  Listrik Masuk Desa, Harapan Baru Masyarakat 3T

Melalui pameran ini, pengunjung dapat melihat koleksi mata uang dari berbagai periode sejarah di Indonesia, mulai dari masa Hindu–Buddha, Kesultanan Islam, kolonial Eropa dan Jepang, hingga masa kemerdekaan. Beragam koleksi masterpiece ditampilkan dalam pameran ini, antara lain uang gobog wayang, koin emas Syailendra setengah potong, mohur, uang kasha Banten beraksara Arab, dan doit.

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menyampaikan bahwa kedua pameran ini menjadi upaya Museum Nasional Indonesia untuk menghadirkan kembali koleksi sebagai narasi yang hidup, bukan hanya sebagai benda, tetapi juga sebagai medium untuk memahami perjalanan peradaban, nilai, dan identitas bangsa.

“Melalui pendekatan ini, diharapkan museum semakin relevan dan dekat dengan masyarakat. Ke depan, Museum Nasional Indonesia akan terus menghadirkan berbagai pameran dan program yang edukatif serta inovatif, sehingga pengunjung dapat memperoleh pengalaman yang beragam,” tambahnya.*

Komentar