Mata Cekras Deui

Oleh: Dian Wahyudi

Warga Lebak

 

PENGALAMAN kembali jelasnya pandangan kedua mata saya ini mungkin sangat subyektif, tapi setidaknya bisa membuat calon pasien operasi mata karena katarak muncul keberanian untuk di operasi.

Sejak kedua mata saya divonis katarak dan harus menjalani operasi, serasa dunia lebih gelap. Kedua mata saya, sebelumnya tiba-tiba buram (semua tampak tidak jelas) serta silau oleh sinar matahari ataupun lampu terutama dimalam hari.

Satu waktu, saat berkendara kendaraan roda empat, di sore hari menjelang malam, disertai hujan deras, yang biasanya sampai tujuan tidak lebih dari 45 menit, karena mata yang tiba-tiba buram dan silau, mobil saya bawa dengan sangat hati-hati dan lambat, hingga sampai tujuan selepas isya, sehingga totalnya menjadi 4 jam. Hah

Sejak saat itu, pandangan baik jauh maupun dekat buram dan silau. Setahun lebih saya tidak membaca buku, tidak menulis opini / tulisan panjang, sehingga tidak ada yang dimuat di media cetak maupun online. Membaca pesan WhatsApp harus dekat dengan mata. Aktivitas terasa terbatas, tidak bisa menyetir mobil dan motor karena pandangan terbatas, walaupun untuk siang hari saya kadang memaksakan diri berkendara roda empat, pelan sekali dan menggemaskan, nu penting nyampe jeung salamet.

Saya berkali-kali bertanya kepada teman, kolega bagaimana operasi katarak di Rumah Sakit (RS) di Rangkasbitung, ternyata cukup banyak yang bernada miring, ada yang bilang tambah parah, ada yang bilang kurang profesional. Sampai kemudian ada kolega yang menyampaikan merasa sukses dengan operasi mata karena katarak di RS berbeda di Rangkasbitung juga, dia sempat berseloroh, yang membuat beliau berani : “masa nini-nini bae geh wanian operasi, masa saya gak berani”, ujar beliau.

Baca juga:  Rezim Paracetamol

Duh, saya akhirnya diskusi dengan istri dan keluarga. Keputusan ada ditangan saya. Saya putuskan dioperasi, tapi ikut dengan saran kolega saya di RS yang pernah beliau dioperasi.

Berarti saya harus pindah faskes untuk pindah RS kalau menggunakan layanan BPJS. Tetapi, karena saya sebelumnya pernah dirawat jalan di poli berbeda, ternyata harus menunggu 3 bulan kalau mau pindah RS.

Baiklah, setelah 3 bulan, saya mulai menjalani hari-hari bertemu kembali dengan antrian seperti di RS lama. Selama proses harus di dampingi pihak keluarga, walhasil istri saya harus beberapa kali izin dari kantornya bekerja sebagai guru. Jam 6.30 berangkat, datang di RS jam 7.00 membawa surat rujukan dari klinik faskes pertama, cek pendaftaran JKN, menunggu panggilan loket, sidik jari, setelah selesai baru menuju poli mata.

Cek mata oleh perawat, diminta menunggu dokter datang, biasanya jam 10 atau jam 11. Menunggu….

Diperiksa dokter mata, positif harus dioperasi. Diminta untuk datang lagi pekan depan untuk janjian operasi, setelah itu menebus obat dibagian farmasi, menunggu lagi. Biasanya selesai sekitar jam 15. Mendapatkan beberapa obat tetes mata untuk persiapan operasi pekan depan.

Pekan depannya, proses nya hampir sama dengan pekan sebelumnya. Sekitar jam 11.30 setelah melayani pasien poli mata yang lain, kami di ajak ke ruang operasi mata. Jumlah pasien yang dioperasi beragam setiap hari, saat saya di operasi pertama kali ada 15 orang yang akan dioperasi. Kami di bawa ke ruang operasi, keluarga menunggu di luar ruangan. Kami para pasien dibedakan, berdasarkan mata bagian mana yang akan dioperasi, saat pertama dioperasi, mata kanan saya yang dioperasi.

Baca juga:  Upaya Pemerintah Mewujudkan Generasi Emas 2045

Ruangan operasi sangat dingin, menambah deg-degan dan membuat nyali menciut, tapi sudah tidak bisa mundur…

Tiktok…tiktok… waktu berjalan serasa lambat. Ternyata saya pasien terakhir yang dioperasi hari itu. Saya dipasangkan tutup kepala plastik dan baju operasi, kemudian diminta masuk ruang operasi jam 14.30, sambil membawa berkas data pasien dan kardus lensa mata.

Saya diminta naik ranjang operasi dengan kepala dipaskan dengan posisi lampu besar yang berada di atasnya. Selanjutnya sekitar mata kanan diberi cairan, dibersihkan dengan kasa, mata kemudian ditutup oleh semacam plastik, yang selanjutnya dipotong sesuai dengan lubang mata. Kemudian mata diberi semacam penyangga agar mata tetap terbuka selama operasi berlangsung. Diberikan cairan ke mata lagi.

“Kita mulai ya”, kata dokter. Diberikan cairan lagi. Lampu menyorot mata, seperti sedang berada di dunia lain, planet lain, silau, serab jasa. “Tahan ya”, ujar dokter lagi. Jadi mata dibersihkan dengan cairan, kemudian ditanam lensa di mata yang dioperasi. Kalau dihitung mungkin proses operasinya sekitar 7 sampai 10 menit saja. “Sudah”, kata dokter. Heh…

Tidak terasa sakit, yang menyebabkan takut, sebenarnya perasaan kita sendiri.

Setelah operasi besok harinya kami diminta datang kembali, untuk cek keberhasilan operasi, masih bengkak atau ada masalah lainnya. Alhamdulillah, menurut perawat operasi saya sukses dan tidak ada bengkak pasca operasi. Dan memang mata setelah dibuka pelindung matanya yang dioperasi, pandangan tampak jelas dan terang benderang. Pandangan mata yang tadinya sekira semeter buram, sudah cekras kembali, juga untuk jarak sekira 5 meter di ruangan poli.

Setelah itu, kami harus kontrol sepekan sekali, dengan dibekali obat tetes mata dan vitamin mata, dengan beberapa pantangan medis yang harus dipatuhi selama proses penyembuhan. Selama 3 pekan, jika tidak ada masalah, sudah dinyatakan normal, dan bisa mengajukan operasi lanjutan untuk mata yang belum dilakukan operasi. Demikianlah selanjutnya, saya melakukan operasi kedua, untuk mata kiri mengikuti prosedur seperti operasi sebelumnya.

Baca juga:  Libur Sekolah Tidak Hentikan Program Makan Bergizi Gratis

Hasil operasi pada setiap orang mungkin berbeda-beda, Alhamdulillah untuk kedua mata saya saat ini, seperti saya katakan, sudah cekras dan tidak perlu menggunakan kaca mata untuk pandangan jarak jauh, hanya memang untuk jarak dekat, atau untuk membaca harus dibantu menggunakan kaca mata baca.

Jadi untuk operasi katarak saat ini, tidak ada yang perlu di khawatirkan apalagi ditakutkan, prosesnya nya cepat tanpa jahitan. Asal nurut dan mengikuti arahan dan saran  dokter. Karena ada beberapa pasien yang selama operasi berlangsung kadang secara sadar atau tidak sadar, kadang tidak fokus melihat lampu sorot, padahal kesuksesan operasi salah satunya adalah fokus. Ada yang sampe ribut antara seorang kakek dan dokter di ruang operasi. Usut punya usut ternyata si aki kurang mendengar, alias kurang denge, jadi na dordar dokter Jeung si aki diranjang operasi.

Saya menceritakan hal ini, sebagai bentuk berbagi rasa syukur, serta memotivasi para pasien katarak tidak perlu khawatir untuk menjalani operasi mata, untuk pasien yang memiliki riwayat Diabetes juga tidak perlu takut, karena proses operasi tidak dijahit, insyaAllah cukup aman. Kepada keluarga yang memiliki pasien katarak tolong bacakan tulisan ini, ulah sieun, ulah hariwang. Semoga bermanfaat.*

 

* Cekras Deui (Bahasa Sunda) artinya Mata Melihat Jelas Kembali

Komentar