BPBD Kabupaten Serang Latih Mitigasi Bencana 50 Disabilitas

BANTEN72 – Sebanyak 50 disabilitas dari 29 kecamatan se Kabupaten Serang diberikan pemahaman terkait mitigasi kebencanaan di Aula Dinsos Kabupaten Serang, Selasa (29/7/2025). Kegiatan yang terselenggara atas kolaborasi BPBD Kabupaten Serang dengan Yayasan Visi Maha Karya tersebut agar para disabilitas bisa menyelamatkan dirinya sendiri saat terjadi bencana sebelum petugas datang.

Sekretaris BPBD Kabupaten Serang Ade Ivan Munasyah S.Kom, M.Si mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk membangun komunikasi informasi juga memberikan edukasi terkait penanggulangan bencana dan kebakaran bagi penyandang disabilitas.

“Disabilitas yang hadir hampir 50 orang dari beberapa kategori, ada yang tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, ada yang cacat karena lahir, ada yang cacat karena kecelakaan,” ujarnya kepada Banten72 saat ditemui usai pembukaan.

Ade Ivan mengatakan sebagai pemerintahan, pihak tetap melayani seluruh masyarakat, baik masyarakat secara umum maupun masyarakat yang masuk kategori kebutuhan khusus atau disabilitas.

Baca juga:  Program PBL Dilaunching, Kadisnakertrans Banten: Ciptakan SDM Siap Kerja

“Ini pesertanya hampir semuanya mewakili wilayah Kabupaten Serang, dari Serang Timur sampai ke Anyer,” ucapnya.

Menurut dia acara tersebut sangat luar biasa dan menjadi bukti keterlibatan seluruh pihak dalam penanggulangan bencana dan kebakaran bisa dilakukan.

“Karena filosofinya bencana adalah tanggung jawab bersama,” katanya.

Ia berharap masyarakat khususnya disabilitas tersebut bisa memahami mitigasi bencana. Dimana yayasan telah menyediakan mediator, fasilitator dan translator sesuai kebutuhan peserta.

“Jadi kita melayani masyarakat itu dari  masyarakat umum sampai ke masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus. Kita perlakukan sesuai dengan kebutuhannya,” ucapnya.

Sekban mengatakan bencana alam juga kebakaran banyak terjadi akibat hujan eror. Misalkan kebakaran akibat masyarakat bakar sampah kemudian ditinggalkan dan membesar, terkena angin lalu merambat ke ladang kering.

“Terus karena instalasi listrik yang sudah tidak layak menyebabkan korsleting listrik dan kebakaran. Kalau bencana alam kaya sungai banyak masyarakat yang sampah ke sana, saat debit air besar meluap ke permukiman,” ucapnya.

Baca juga:  Pelatihan Berbasis Kompetensi Gelombang 3 Resmi Dibuka, Ini Pesan Kadisnakertrans Banten

Oleh karena itu kolaborasi dalam pencegahan bencana sangat dibutuhkan secara pentahelix. Organisasi yang ada di masyarakat atau pun LSM bisa terlibat langsung bersinergi untuk memberikan pelatihan pada masyarakat.

“Yang harus dilakukan untuk mencegah bencana adalah pembentukan mindset agar tanggap, ketika masuk musim hujan tahu daerahnya biasa banjir, tahu apa yang harus dipersiapkan dalam rangka mitigasi banjir. Kalau ada saluran mampet dibersihkan,” ujarnya.

Kemudian kata Ade Ivan, berdasarkan hasil rakornas di Bandung, saat ini anggaran desa harus disisihkan untuk kegiatan pelatihan mitigasi bencana masyarakatnya, terutama yang ada di daerah rawan bencana.

“Harus diberikan pemahaman dan pelatihan,” katanya.

Baca juga:  Gelar Pelatihan Make-Up Dasar, Disnakertrans Banten Bekali Peserta Skill untuk Buka Usaha

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Serang Nurnaningsih Jahja SKM mengatakan tujuan kegiatan tersebut untuk menjelaskan bagaimana cara mengevakuasi korban atau memitigasi para penyandang disabilitas.

“Kenapa harus ada sosialisasi kepada disabilitas? karena memang penyandang disabilitas variatif. Kita hadirkan disini juga ibu dan anak yang tuna daksa, ada juga ibu dan anak tunanetra. Ada yang polio, tuna daksa dengan kaki palsu sama tuna daksa dengan tongkat. Jadi supaya mereka bisa memitigasi dan mengevakuasi dirinya sendiri sebelum tim penolong datang,” ujarnya.

Selain itu ia berharap pendamping bisa mengetahui apa saja yang harus dilakukan ketika ada disabilitas menjadi korban bencana.

“Kegiatan kita disuport sama Yayasan Visi Maha Karya yang bekerja khusus untuk penyandang disabilitas. Mereka juga selalu berikan bantuan berupa kaki palsu, kursi roda dan tongkat,” katanya. (Adv)***

Komentar