Akademisi STKIP Syekh Manshur : Ramadan  Momentum untuk Melatih Diri Melawan Hawa Nafsu

BANTEN72– Seorang akademisi dari STKIP Syekh Manshur Gasam Tarmon mengungkapkan bahwa  bulan suci Ramadan selain bulan penuh rahmat dan ampunan, juga dimaknai sebagai bulan untuk melatih diri memerangi nasa nasfsu.

“Iya ,  bahwa perang dan jihad  yang paling  besar adalah melawan hawa nafsu. Maka di bulan penuh ampunan dan berkah ini kita manfaatkan untuk sarana memerangi hawa nafsu,” kata Gasam, Jumat (20/2/2026).

Ia menyampaikan,  bulan suci Ramadan bukan sekadar ritual tahunan menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Namun demikian lebih dari itu, Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melatih diri dalam memerangi hawa nafsu serta memperkuat kualitas keimanan dan ketakwaan.

Baca juga:  Presiden Direktur BWJ Purnomo Siswoprastijo Sambut Baik Rencana Pembangunan RSUD Cibaliung: Dorong Akses Layanan Kesehatan untuk Masyarakat dan Wisatawan

“Iya , Ramadan mengajarkan kita untuk melakukan pengendalian diri secara menyeluruh,” katanya.

Oleh karena itu, berpuasa itu tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan, mengendalikan emosi, serta menahan diri dari perbuatan yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa.

Ia menyebut ,  dalam ajaran Islam, hawa nafsu kerap menjadi sumber lahirnya perilaku negatif, seperti amarah, iri hati, hingga sikap berlebihan dalam menyikapi sesuatu.

Selama Ramadan,  kata dia, umat Muslim dilatih untuk bersabar dan lebih peka terhadap kondisi sekitar. Rasa lapar yang dirasakan sepanjang hari menjadi pengingat akan pentingnya empati terhadap sesama, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Baca juga:  Sesuai Harapan Ulama dan Kiai, Ganjar Dinilai Sosok Pemimpin Tepat Buat Indonesia

Oleh  karena itu,  dari sinilah nilai kepedulian sosial tumbuh dan diperkuat. Ramadan juga menjadi sarana memperbaiki hubungan, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.

Melalui ibadah seperti salat tarawih, tadarus Alquan, sedekah, dan memperbanyak doa, umat Muslim diajak untuk membersihkan hati serta menata kembali niat dan tujuan hidup.

Bahkan , kata dia, para tokoh agama kerap menegaskan bahwa keberhasilan puasa tidak diukur dari seberapa lama menahan lapar, melainkan sejauh mana seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Jika setelah Ramadan seseorang menjadi pribadi yang lebih sabar, jujur, dan rendah hati, maka tujuan puasa telah tercapai.

Baca juga:  Sejumlah Politisi Gerindra Temui Paslon Dewi-Iing, Beri Selamat Menangkan Pilkada Pandeglang

Di berbagai daerah, suasana Ramadan juga menghadirkan tradisi kebersamaan, seperti buka puasa bersama dan kegiatan sosial. Aktivitas tersebut bukan hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah memperkuat solidaritas dan semangat berbagi.

Dengan demikian, Ramadan sejatinya adalah sekolah kehidupan. Selama satu bulan penuh, umat Muslim ditempa untuk membentuk karakter yang lebih baik, menguatkan disiplin, serta melatih diri agar mampu mengendalikan hawa nafsu dalam setiap aspek kehidupan.

“Kita berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti saat Ramadan usai, tetapi terus terjaga dan menjadi bagian dari kepribadian sehari-hari,” ujar Gasam.  (Bt72)***

Komentar