Kumpulan Esai Budayawan Betawi Akan Diterbitkan Pustaka Jaya

BANTEN72 – Pada akhir Bulan Bahasa, Oktober 2026, sastrawan dan budayawan Betawi asal Kampung Pondok Pinang di Jakarta Selatan, Chairil Gibran Ramadhan/CGR, menerima kabar menggembirakan dari Abdul Hamid selaku pimpinan redaksi Penerbit Pustaka Jaya di Bandung. Naskah “Kembang Kelapa: Setangkle Catatan Budaya Betawi ~ Dari Batavia Sampai Jakarta” karyanya, dinyatakan lolos untuk terbit pada 2027 bertepatan dengan 500 usia Kota Jakarta yang ditabalkan dengan tagline “Lima Abad Jakarta”.

Pada 10 November 2016, naskah ini diterbitkan dalam jumlah terbatas oleh Penerbit Padasan di Jakarta, dengan Laora Arkeman sebagai penyunting bahasa dan Sarifudin Anwar sebagai perancang sampul-isi. Adapun litografi pada sampul dan isi menggunakan karya Ernest Alfred Hardouin dari “Java’s bewoners in hun eigenaardig karakter en kleederdracht” (Leiden, 1872), atas budi baik Mona Lohanda Ph.D, sejarawan dan guru dari CGR. Pada Juni 2026, buku ini memasuki cetakan ke-11 dengan tetap dalam jumlah terbatas. Pada edisi kedua yang diterbitkan oleh penerbitan milik Ajip Rosidi, sastrawan dan budayawan Sunda, naskah tidak mengalami perubahan, termasuk Kata Pengantar dan Kata Penutup.

Bagi CGR, ini adalah bentuk apresiasi yang istimewa, karena di kampungnya, Jakarta, dapat dikatakan karya-karyanya tidak mendapat apresiasi. Buku-buku seputar Betawi, Batavia, Jakarta, karyanya, meski dikoleksi Universiteit Leiden, namun sebagian besar diapresiasi dalam bentuk pembelian oleh kalangan bukan Betawi. Berbagai pengajuannya terkait pencetakan buku-buku seputar Betawi, Batavia, Jakarta, juga tidak pernah mendapat tanggapan para tokoh Betawi dari bidang politik dan budaya, termasuk perkumpulan para guru besar dan dosen senior berdarah Betawi dan lembaga-lembaga kebetawian yang selama ini membangun kesan “peduli pada kebudayaan”. Terakhir, pada akhir September 2026, pengajuannya untuk gerakan “Bela Betawi Liwat Literasi” pada Oktober 2026, juga tidak mendapat respon. Padahal CGR membayangkan, ada tokoh Betawi yang menjadi pengayom gerakan sehingga mendukung riset, penulisan, pencetakan, dan peluncuran buku.

Indonesia mengenal Ajip Rosidi (1938-2020) yang mewariskan Pustaka Jaya dan Anugerah Sastra Rancage, Richard Oh (1959-2022) yang mewariskan Khatulistiwa Literary Award, dan Denny JA yang menggenjot genre puisi esai dengan segala gerakannya. Namun Kota Jakarta, dengan Betawi sebagai native-nya, selama 500 tahun, tidak pernah memiliki tokoh yang dengan kekuatan harta, niat, dan jabatan, menjadi ujung tombak gerakan sastra. Para tokoh dari lembaga kebetawian, partai politik, dan akademisi yang terjun ke politik, mengusung gerakan yang terus berkutat pada acara panggung hiburan berisi tawa, musik, tari, kuliner, silat, dan busana. Selebihnya yang bernasib sebagai “orang ada” dan “orang pangkat-pangkat”, hanya asyik dengan diri sendiri dan keluarganya. Adapun gerakan-gerakan literasi, dilakukan oleh orang-orang nekat secara gerilya dan kurang gizi. Akhirnya banyak buku bertema sejarah, budaya, sastra yang membawa aroma Betawi, Batavia, Jakarta, selama belasan tahun hanya mengendap dalam bentuk dummy. Impian menghadirkan dalam jumlah minimal pun seringkali tidak pernah terwujud.

Secara keseluruhan, “Kembang Kelapa: Setangkle Catatan Budaya Betawi ~ Dari Batavia Sampai Jakarta” memuat 17 catatan budaya: Betawi dalam Gambar Idoep, Duit Betawi, Orang Betawi dalam Peribahasa Indonesia, Orang Betawi: Kampungnya Ilang diambil Orang?, Pestol Jali-Jali, Bahasa Diri Orang Betawi dalam Gambar Bergerak, Benyamin Suaeb Dilegendakan Kejenakaan, Belanda, Tionghoa, dan Film Lama di Batavia, Betah di Wilayah, Indian, Betawi, dan Bahasa yang Hilang, Orang Betawi dan Orang Castles, Membaca Betawi, (Orang) Betawi Membaca, Betawi Comberan, Topeng, Lenong, dan Kreapromitas, Si Pitung, Malcolm X, dan Orang Betawi, Muntaco atau Madjoindo?, Tionghoa, Lebaran, dan Betawi.

Selain membahas salah kaprah pemakaian Bahasa Betawi, sejarah perkembangan tema film nasional, akulturasi, dan fakta sosial, secara garis besar CGR menyuarakan perjuangan membela harkat dan martabat etnis Betawi yang banyak direndahkan melalui sinetron, film layar lebar, hingga kamus peribahasa. “Lucunya di Betawi, ketika saya mengungkapkan hal ini sama sekali tidak ada dukungan. Namun ketika mengkritisi acara pawai atau panggung hiburan yang menghabiskan dana sangat besar namun tak meninggalkan bekas apapun, responnya berupa pencekalan dan penjegalan. Padahal otokritik adalah bentuk kecintaan, bukan kebencian.”

Dari 17 catatan budaya, “Duit Betawi” (istilah CGR untuk uang nasional bernuansa Betawi) paling mengesankan. Konsep ini pertama kali disampaikannya melalui telepon kepada H. Eddy Rusli Thabrani pada siaran di Bens Radio, 30 Desember 2000. Dilanjutkan pada catatan budaya, “Semiloka Kebudayaan Betawi” di Hotel Borobudur (26-28 Juni 2010), Kongres Kebudayaan Betawi di Hotel Grand Cempaka (5-7 Desember 2011), dan berbagai kesempatan saat menjadi pembicara sejarah dan budaya. Namun saat rapat Tim Perumus KKB 2011, seorang sejarawan malah menyebut konsep tersebut sebagai usulan yang rasis; dan saat CGR sampaikan pada SKB 2010, seorang dari ormas Betawi memotong penjabarannya sambil berdiri dan membentak: “Ude lu! Nulis cerpen, nulis cerpen aje!” Ironisnya pada tahun 2016, saat BI mengeluarkan uang kertas RI dalam pecahan 2000 dan 100.000 yang membawa nuansa Betawi, CGR jutsru mengetahuinya dari praktisi budaya Rusdi Gambang: “Bang, alhamdulillah yang ente perjuangin selama ini jadi kenyataan.”

Terbitnya “Kembang Kelapa” dengan jangkauan yang lebih luas, semoga membuka mata orang Betawi dan bukan Betawi atas apa terjadi pada etnis yang kotanya akan berumur 500 tahun ini.*

Komentar