RSUD Kota Serang Siapkan Dokter Spesialis Gizi

BANTEN 72-Penanganan pasien dengan masalah gizi membutuhkan pemeriksaan dan perawatan sesuai kondisi medis masing-masing. Untuk mendukung pelayanan tersebut, RSUD Kota Serang memastikan ketersediaan dokter spesialis gizi bagi pasien yang membutuhkan penanganan terkait gangguan gizi, termasuk anak dengan kondisi gizi buruk.

Direktur RSUD Kota Serang, dr. H. Ahmad Humariadi, MARS, mengatakan rumah sakit milik Pemerintah Kota Serang itu siap memberikan pelayanan medis kepada masyarakat dengan masalah gizi. Keberadaan dokter spesialis gizi diharapkan dapat mendukung penanganan pasien sesuai kebutuhan medisnya.

“Kami menerima masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan di RSUD Kota Serang, terutama pasien yang mengalami gizi buruk. Kami juga memiliki dokter spesialis gizi sehingga pasien dengan masalah gizi dapat memperoleh pelayanan sesuai kebutuhan,” kata Ahmad Humariadi, Selasa (27/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kunjungan Ketua Tim Pembina Posyandu sekaligus Ketua TP PKK Kota Serang, Arfina Rustandi, yang menjenguk seorang anak dengan masalah gizi di RSUD Kota Serang. Kunjungan itu dilakukan setelah adanya aduan dari masyarakat dan kader posyandu mengenai kondisi anak yang membutuhkan perhatian serta penanganan lebih lanjut.

Dalam kunjungan tersebut, Arfina melihat langsung kondisi anak sekaligus menyerahkan bantuan yang melibatkan sejumlah unsur Pemerintah Kota Serang, yakni Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan.

Ia menegaskan, pasien dengan masalah gizi membutuhkan perhatian serius agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Selain pemeriksaan dan perawatan medis, dukungan keluarga juga diperlukan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi pasien, terutama anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan.

Karena itu, penanganan di rumah sakit perlu diikuti dengan pemahaman keluarga mengenai pemenuhan gizi dan perawatan anak.

Langkah tersebut penting untuk mendukung pemulihan sekaligus menjaga agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi setelah mendapatkan pelayanan medis.

Sementara itu, Arfina Rustandi menilai penanganan masalah gizi pada anak, termasuk stunting, tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan.

Pemenuhan kebutuhan gizi sehari-hari, pendampingan keluarga, serta pemantauan pertumbuhan anak melalui posyandu juga perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Ia mendorong kader posyandu untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya konsumsi makanan bergizi.

Menurutnya, pemenuhan gizi tidak selalu harus menggunakan bahan pangan mahal karena sejumlah sumber nutrisi dapat diperoleh dari makanan yang mudah ditemukan sehari-hari.

“Melalui posyandu, kita terus menggerakkan masyarakat untuk mengonsumsi makanan sehat guna membantu menekan angka stunting. Makanan bergizi tidak harus mahal karena bisa memanfaatkan bahan pangan yang mudah ditemukan sehari-hari,” ujar Arfina.

Ia mencontohkan tahu, tempe, sayuran hijau, bayam, dan ikan sebagai bahan pangan yang dapat menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan nutrisi anak.

Selain itu, pemantauan rutin di posyandu dinilai penting agar gangguan pertumbuhan dapat diketahui lebih awal dan segera ditindaklanjuti melalui pelayanan kesehatan.

Kolaborasi antara rumah sakit, perangkat daerah, kader posyandu, dan keluarga diharapkan dapat memperkuat upaya penanganan masalah gizi pada anak.

Dengan deteksi dini dan penanganan sesuai kebutuhan, anak yang mengalami gangguan gizi diharapkan memperoleh pelayanan yang tepat untuk mendukung proses pemulihan dan tumbuh kembangnya. (Adv)***

Komentar