BANTEN72 – RB Ali dan Gogor Purwoko pada Rabu (30/9/2026) membuka pameran bersama di Bentara Budaya Art Gallery, Lt. 8 Menara Kompas, Jl. Palmerah Selatan No. 21, Jakarta Pusat dengan tajuk “Nothing”. Pameran di buka oleh Brandon Cahyadhuha Rusdy selaku Gallery Owner. Dan dikuratori oleh Mayek Prayitno dan Sentot D Setiawan. Pameran Nothing akan berlangsung dari tanggal 1–30 Oktober 2026.
Di balik riuhnya kehidupan, ada ruang hening tempat manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. “Nothing” mempertemukan RB Ali dan Gogor Purwoko dalam eksplorasi tentang ketiadaan, kekosongan, kesunyian, dan keberadaan. Terinspirasi dari gagasan Suwung dalam falsafah Jawa, Sunyata dalam Buddhisme Mahayana, hingga pemikiran Nietzsche tentang nihilism, kekosongan dihadirkan bukan sekadar sebagai “ketiadaan”, melainkan sebagai ruang yang menyimpan energi, pengalaman, emosi, dan kemungkinan.
Bagi RB Ali, kekosongan berkelindan dengan kehilangan, duka, cinta, dan proses kreatif. Sementara bagi Gogor Purwoko, blank menjadi ruang aktif ketika pikiran dilepaskan dan garis, warna, bentuk, serta energi menemukan jalannya sendiri di atas kanvas. Kosong, tetapi berisi. Hening, tetapi bergerak. Nothing, tetapi justru menjadi sesuatu.
Bagi perupa RB. Ali, kehidupan itu berotasi, kadang ia diatas, kadang ia dibawah. Berdasar apa yang ia pelajari dari falsafah Ki Ageng Suryomentaram tentang sifat manusia yang “mulur mungkret”. Ia merasa hidupnya berada diantara arena itu dan ketika ia merenungkannya kembali, ia merasakan “kekosongan” (“Nothing”/”Suwung”). Bahwa keberadaan kita itu tidak ada apa-apanya. Meski begitu, direlung ruang kekosongan itu, ia justru menemukan eksistensi dirinya terutama dalam proses kreatif. Ia merasa hidup dan mendapatkan vitalitasnya kembali, itu berarti diantara kekosongan, rasa sepi dan kehampaan, ternyata ada “apa-apanya”.
Sementara Gogor Purwoko, perupa yang mengaduk abstrak geometri dan abstrak ekspresionis, dengan memperlihatkan bentuk-bentuk kekosongan (Blank) yang substansial. Dalam salah satu konsep gagasannya, ia menyebutnya Blank On, yang berarti kosong namun menunjuk pada sesuatu (on); tempat, waktu dan energi aktif.
Menurutnya, keheningan atau kekosongan sesungguhnya adalah “isi”. Energi aktif yang menempatkan subyek atau obyek didalam ruang, suatu tempat yang tak dapat di identifikasi, tapi ia ada disana, mungkin akan menjadi sesuatu. Dalam kesibukan dan keramaian yang diselaminya, ia justru mengalami kekosongan, kondisi eksistensial yang ia sadari saat hening pikirannya, semuanya sudah berada diluar dan didalam aku. Pada titik inilah dorongan religiusnya mengantarkannya pada sifat kekekalan atau keabadian, yang tertangkap dalam karyanya berupa garis lingkar abadi, tak memiliki ujung, representasi fundamen yang memberi ciri pada karya-karyanya.
Menurut Mayek yang mengkuratori pamern tersebut mengatakan, perupa RB. Ali dan Gogor Purwoko, tengah menyadari kejanggalan realitas dan keterjebakan dalam kelimpahan material kehidupan sehari-hari yang terlihat sebagai hal biasa. Ketika semua manusia terdorong pada keramaian logika dan kehendakbebasnya ditengah modernitas yang heboh dengan segala macam wajah dan caranya, mereka berdua justru mengajak kembali pada hakikat, perenungan dan refleksi hidup melalui representasi “kesuwungan” dalam karya seni.*





Komentar