BANTEN72 — Festival Sastra Kepulauan (FSK) IX yang berlangsung di Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang diselenggarakan Teater Kita Makassar diikuti oleh puluhan peserta berakhir dengan kesimpulan, bahwa merawat tradisi puitik menautkan keberagaman kampung berhasil merayakan karya sastra sekaligus memperkuat pelestarian budaya literasi Nusantara. Hadir dalam festival ini beberapa tokoh di antaranya Prof. Dr. Nurhayati Rahman, Aslan Abidin, Andi Mahrus, Arifin Manggau.
Menurut Kepala Balai Bahasa Sulsel yang diwakili Wahida, sastra tidak hanya menjadi medium ekspresi seni, tetapi juga memiliki peran dalam mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat. “Melalui sastra dapat dihubungkan berbagai elemen masyarakat. Sastra bukan sekadar ruang berekspresi tetapi juga jembatan keberagaman,” ujarnya.
Ketua Panitia FSK IX Dr. Asia Ramli mengemukakan, festival ini menghadirkan sebelas agenda utama yang berlangsung selama tiga hari. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi panggung sastra, diskusi, workshop, pameran buku, kemah sastra hingga sejumlah lomba kreatif seperti baca dan penulisan puisi. “Salah satu agenda utama adalah peluncuran antologi puisi Kata-kata yang Menyeberang himpunan karya 62 penyair dari berbagai daerah termasuk penyair dari Malaysia,” jelasnya.
Dalam dialog sastra yang menghadirkan antara lain Dr. Mu’jizah, peneliti ahli utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dibahas tentang tradisi puitika sastra kepulauan. “Pesisir menandai ruang dan kepulauan menandai relasi. Sastra kepulauan menjadi penanda relasi antarruang, hubungan dan mobilitas antarpulau serta pulau-pulau sebagai simpul jaringan. Perlakukan sastra kepulauan sebagai cara membaca atau archipelagic reading sebagai sebuah perspektif, bukan sebuah genre,” jelasnya.
Ditambahkan, ada empat proposisi yakni pesisir dan kepulauan berhubungan erat tetapi tidak identik, laut adalah ruang penghubung sekaligus pemisah, mobilitas manusia menghasilkan teks dan diaspora teks, dan sastra modern melanjutkan persoalan sastra klasik dalam bentuk baru.
Sementara Bambang Widiatmoko, penyair yang dikenal aktif di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dalam presentasinya langsung memberikan contoh bahwa imaji dan persoalan yang berkaitan dengan lautan dapat direpresentasikan dalam bentuk karya sastra dan dengan kearifan lokalnya. Dalam puisi “Laut Malam” karya Asia Ramli Prapanca, laut malam bukan dimaknai secara geografi melainkan lanskap batin yang disebut kerajaan nafsu. “Puisi ini dihadirkan sebagai kontras, laut yang telah dicerabut dari kepulauan,” ujarnya.
Ditambahkan, di berbagai daerah dikenal adanya puting beliung yang oleh masyarakat Mandar disebut dengan Laso Angin. Datangnya Laso Angin ini bagi para nelayan dapat dicegah dengan tradisi tertentu yakni nelayan akan bertelanjang bulat dan mengucapkan mantra di antaranya “diang dini laso kayyangpa” yang merupakan pemberitahuan kepada angin bahwa ada penis yang besar dan jika dikaitkan pada keseluruhan mantra adalah teman dari angin puting beliung.
“Dengan adanya Festival Sastra Kepulauan IX diharapkan berlanjut pada tahun mendatang dan menjadi ruang bertemunya gagasan, karya, dan tradisi dari berbagai daerah untuk memperkuat keberagaman budaya Indonesia melalui sastra,” ujar Bambang yang bulan depan diundang menghadiri Festival Raja Ali Haji di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.*





Komentar