Membumikan Wahyu Ilahi Melampaui Sekadar Trofi

Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq

Alumnus Prodi Aqidah dan Filsafat IAIN SGD Bandung

 

“MTQ harus menjadi laboratorium peradaban yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mahir melantunkan ayat secara indah, tetapi juga mampu mengimplementasikan semangat Al-Qur’an dalam setiap kebijakan publik dan perilaku sosial.”

Di bawah langit Banten yang sedang bersiap menyambut perhelatan akbar, suasana di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Serang, mulai memancarkan denyut yang berbeda. Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXIII Tingkat Provinsi Banten yang dijadwalkan berlangsung pada 6-10 Juli 2026 ini bukan sekadar agenda rutin tahunan yang bersifat seremonial, melainkan sebuah manifestasi dari tradisi keilmuan yang telah mengakar kuat dalam sejarah tanah para jawara. Ribuan pemangku kepentingan, kafilah dari setiap kabupaten dan kota, serta para penggiat pendidikan Islam tengah memusatkan perhatian pada momen yang diharapkan mampu mengokohkan identitas religius masyarakat Banten yang telah lama dikenal sebagai tanah sejuta santri.

Dalam sebuah analisis mendalam yang dimuat di Republika, Prof. Ahmad Tholabi Kharlie, seorang Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah yang juga tokoh pendidikan, memberikan pandangan reflektif mengenai pentingnya perhelatan ini dalam memperkuat ekosistem Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa MTQ adalah bagian dari mata rantai peradaban keilmuan yang tidak boleh terputus, sebuah modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan daerah. Saya sangat sepakat dengan narasi tersebut; bahwa pembangunan di Banten haruslah memiliki keterkaitan erat dengan penguatan nilai-nilai moral dan pendidikan qurani, serta menjadikannya sebagai sarana untuk mengonsolidasikan elemen ulama, masyarakat, dan pemerintah.

Baca juga:  Mempercepat Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Namun, di balik narasi megah tentang penguatan ekosistem tersebut, timbul sebuah pergulatan batin yang mendalam ketika kita menoleh pada realitas lapangan yang seringkali berbenturan dengan nilai-nilai ideal. Sebagai seseorang yang mendalami bidang Aqidah Filsafat, saya merasa terpanggil untuk menyelisik substansi di balik megahnya panggung perhelatan ini, terutama saat melihat fenomena yang sering mencederai marwah kompetisi itu sendiri. Perhelatan yang seharusnya menjadi ajang pengagungan firman Tuhan, terkadang justru dinodai oleh praktik-praktik tidak terpuji yang jauh dari nilai-nilai akhlaqul karimah yang diajarkan oleh kitab suci yang sedang diperlombakan tersebut.

Salah satu ironi paling pahit yang acapkali kita saksikan dalam setiap ajang kompetisi, baik itu seni, olahraga, maupun MTQ, adalah praktik curang yang melibatkan peserta bayaran dari luar daerah. Sungguh memprihatinkan ketika sebuah daerah merasa perlu “mengimpor” kafilah demi ambisi meraih prestasi instan, lalu mengakui mereka sebagai putra daerah setempat. Tindakan ini merupakan antitesis dari pendidikan karakter yang sedang kita upayakan di madrasah-madrasah, sebuah bentuk manipulasi administratif yang mencerminkan krisis eksistensial dalam beragama karena menghalalkan segala cara demi sekadar angka.

Lebih jauh lagi, terdapat “kesepakatan tidak tertulis” yang telah menjadi rahasia umum di kalangan praktisi lapangan, yakni kebiasaan tuan rumah yang hampir selalu didaulat menjadi juara umum. Fenomena ini kerap dibalut dengan dalih penghormatan atas jasa dan pengorbanan logistik yang telah dikeluarkan tuan rumah selama menjadi penyelenggara perhelatan. Padahal, penilaian yang bersifat subjektif dalam seni tilawah seharusnya menuntut integritas dewan hakim yang tak tergoyahkan oleh kepentingan politik praktis maupun ego sektoral yang bersifat sesaat dan menyesatkan tersebut.

Baca juga:  Menjamin Kelancaran Distribusi BBM dan Pangan Sambut Lebaran 2025

Dalam kacamata Sunda Banten yang kita cintai, praktik-praktik seperti ini ibarat kita sedang mencoba membersihkan lantai masjid, namun di saat yang sama justru mengotori halaman depannya dengan sampah yang membusuk. Sebagai Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten, saya melihat bahwa perilaku manipulatif ini perlahan-lahan sedang merusak tatanan nilai yang diwariskan oleh para leluhur kita, terutama sosok ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani. Kita sedang mempertaruhkan integritas moral di atas panggung yang seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi qurani yang jujur, amanah, dan berjiwa bersih.

Perenungan ini membawa kita pada sebuah pertanyaan filosofis mengenai hakikat kompetisi itu sendiri: apakah kita sedang beribadah melalui MTQ, atau justru sedang membangun sandiwara di hadapan Allah SWT? Jika kejujuran telah digadaikan demi sebuah trofi yang akan berdebu di lemari kantor, maka kita sebenarnya sedang mengalami kerugian besar secara spiritual dan intelektual. Kita perlu segera melakukan “ngaji diri” dan introspeksi kolektif, agar setiap sen anggaran yang dikeluarkan untuk perhelatan ini tidak menjadi mubazir karena hilangnya keberkahan akibat cara-cara yang penuh dengan noda kedustaan.

Kita tidak boleh membiarkan MTQ ini terjebak dalam arus keserakahan yang picik, di mana prestasi diukur dari jumlah piala yang terkumpul, bukan dari sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an meresap ke dalam perilaku hidup sehari-hari. Saya sangat berharap agar perhelatan ini menjadi laboratorium peradaban yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya mahir melantunkan ayat secara indah, tetapi juga mampu mengimplementasikan semangat Al-Qur’an dalam setiap kebijakan publik dan perilaku sosial. Inilah saatnya kita mengembalikan marwah MTQ sebagai sarana ta’aruf dan dialog intelektual yang jujur, jauh dari aroma kecurangan yang merusak.

Baca juga:  Diplomasi Finansial Indonesia Lewat Global Bond Danantara

Biarlah perhelatan tahun ini menjadi titik balik bagi kita semua, khususnya bagi masyarakat Banten, untuk membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang berilmu dan beradab. Mari kita jadikan nilai-nilai qurani sebagai napas dalam keseharian, menjadi pelita saat jalanan terasa gelap, dan menjadi kompas bagi jiwa yang sedang mencari arah yang benar. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan bagi para penggerak pendidikan dan birokrasi di Banten untuk tetap istiqamah dalam menjaga kejujuran, sehingga MTQ ini benar-benar membawa perubahan nyata bagi kualitas kehidupan masyarakat kita ke arah yang lebih hakiki dan mulia.

Trofi hanyalah benda mati yang tidak akan memberikan nilai apa pun di hadapan Sang Pencipta jika ia didapatkan dengan cara yang melabrak aturan agama. Yang kekal adalah perubahan perilaku, keberkahan dari kejujuran yang terjaga, serta keberlanjutan tradisi intelektual yang murni tanpa tercampur ambisi duniawi yang berlebihan. Mari kita sambut MTQ XXIII Tingkat Provinsi Banten 2026 dengan hati yang bersih, integritas yang kokoh, serta semangat untuk membumikan wahyu Ilahi sebagai perilaku hidup sehari-hari yang menjadi bukti nyata dari keberhasilan kita dalam meniti jalan peradaban. Wallahualam.*

Komentar

Berita Lainnya