Literasi Pengeluaran ASI Melalui Pijat Oksitosin

Oleh: Jumiati

Mahasiswa Program Doktoral Kesehatam Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makasar

 

AIR Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak yang optimal. Namun, pencapaian target ASI eksklusif di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk rendahnya literasi ibu tentang pengeluaran ASI dan minimnya keterlibatan suami dalam proses menyusui.

Pijat oksitosin sebagai teknik stimulasi produksi ASI terbukti efektif, namun belum banyak dikenal dan dipraktikkan secara luas. Policy brief ini mengusulkan peningkatan literasi pengeluaran ASI melalui edukasi pijat oksitosin dan pemberdayaan suami sebagai strategi intervensi, dengan melibatkan pemangku kepentingan dari sektor pemerintah dan swasta.

Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan WHO-UNICEF, Cakupan Nasional ASI Eksklusif pada tahun 2024 mencapai 66,4%, sedangkan Provinsi Banten mencapai 75,36% masih belum mencapai dari target yaitu 80% yang ditetapkan dalam Rencana Strategis Nasional., Rendahnya pencapaian ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

  • Kurangnya pengetahuan ibu tentang teknik menyusui dan pengeluaran ASI.
  • Minimnya dukungan dari suami dan keluarga.
  • Stres pasca persalinan yang menghambat produksi hormon oksitosin.
  • Kurangnya akses terhadap edukasi dan praktik pijat oksitosin.

Pijat oksitosin adalah teknik pijat ringan di area punggung ibu yang bertujuan merangsang produksi hormon oksitosin, yang berperan penting dalam pengeluaran ASI. Ketika dilakukan secara rutin dan benar, pijat ini dapat meningkatkan volume ASI dan mempercepat proses menyusui.

Baca juga:  PP TUNAS dan Otoritas Negara di Ruang Digital Anak

 

Analisis Situasi

  1. Literasi Pengeluaran ASI: Studi menunjukkan bahwa sebagian besar ibu menyusui belum memahami mekanisme fisiologis pengeluaran ASI, termasuk peran hormon oksitosin dan teknik stimulasi seperti pijat oksitosin. Literasi yang rendah ini berdampak pada ketidakefektifan proses menyusui dan berujung pada pemberian susu formula lebih dini.
  2. Peran Suami dalam Menyusui: Keterlibatan suami dalam proses menyusui sangat penting, baik secara emosional maupun praktis. Suami yang teredukasi tentang manfaat ASI dan teknik pijat oksitosin dapat menjadi pendukung utama ibu menyusui. Namun, budaya patriarki dan minimnya program edukasi bagi laki-laki menyebabkan peran ini belum optimal.
  3. Efektivitas Pijat Oksitosin: Penelitian oleh Universitas Diponegoro menunjukkan bahwa pelatihan pijat oksitosin secara signifikan meningkatkan produksi ASI dan mempercepat proses menyusui. Teknik ini mudah dipelajari dan dapat dilakukan oleh suami di rumah, sehingga sangat relevan untuk diterapkan dalam konteks pemberdayaan keluarga.
  4. Keterlibatan Stakeholder: Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengembangkan berbagai program promosi ASI, namun belum secara spesifik mengintegrasikan pijat oksitosin dan pemberdayaan suami. Sementara itu, sektor swasta seperti rumah sakit, klinik, dan perusahaan dapat berperan dalam menyediakan pelatihan dan fasilitas pendukung menyusui.
Baca juga:  Arah Baru Ketahanan Energi ASEAN

 

Kebijakan pemerintah daerah yang dapat mendukung pelaksanaan literasi pengeluaran ASI melalui pijat oksitosin dan pemberdayaan suami mencakup berbagai aspek pelayanan kesehatan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Berikut adalah beberapa bentuk kebijakan yang relevan dan strategis:

  1. Integrasi dalam Program Kesehatan Ibu dan Anak
  • Peraturan daerah (Perda) yang mewajibkan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit untuk menyediakan layanan edukasi pijat oksitosin.
  • Standarisasi pelayanan antenatal dan postnatal yang mencakup pelatihan pijat oksitosin bagi ibu dan suami.

 

  1. Penguatan Edukasi dan Sosialisasi

1) Program edukasi masyarakat melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) tentang pentingnya ASI eksklusif dan teknik pijat oksitosin.

2) Kampanye literasi ASI di media lokal, sekolah, dan komunitas, dengan melibatkan tokoh masyarakat dan kader kesehatan.

 

  1. Pemberdayaan Keluarga dan Kelas Ayah

1) Penyelenggaraan “Kelas Ayah” di tingkat kelurahan atau kecamatan untuk melatih suami dalam mendukung proses menyusui, termasuk praktik pijat oksitosin.

2) Insentif partisipasi keluarga, seperti sertifikat atau penghargaan bagi keluarga yang aktif dalam program ASI eksklusif.

 

  1. Kemitraan dengan Sektor Swasta dan Dunia Usaha
Baca juga:  Menjadikan Danantara Instrumen Negara Perkuat Kedaulatan Investasi

1) Regulasi daerah yang mendorong perusahaan menyediakan ruang laktasi dan pelatihan pijat oksitosin bagi karyawan.

2) Kebijakan cuti ayah yang lebih fleksibel untuk mendukung keterlibatan suami dalam perawatan bayi dan ibu pasca persalinan.

 

  1. Monitoring dan Evaluasi Program

1) Sistem pelaporan dan evaluasi di tingkat kabupaten/kota untuk memantau cakupan ASI eksklusif dan keterlibatan suami.

2) Survei kepuasan ibu menyusui terhadap layanan pijat oksitosin dan dukungan keluarga, sebagai dasar perbaikan kebijakan.

 

Kebijakan-kebijakan ini dapat dirancang dan diimplementasikan oleh pemerintah daerah melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Kesehatan, DP3A, organisasi profesi, LSM, dan media lokal. Dengan pendekatan berbasis keluarga dan komunitas, intervensi ini berpotensi besar meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak di daerah.

 

Kesimpulan

Peningkatan literasi pengeluaran ASI melalui pijat oksitosin dan pemberdayaan suami merupakan strategi yang efektif dan berkelanjutan untuk mencapai target ASI eksklusif nasional. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan pelibatan berbagai pemangku kepentingan, Indonesia dapat memperkuat fondasi kesehatan anak sejak dini dan mencegah masalah gizi seperti stunting. Intervensi ini tidak hanya berdampak pada ibu dan bayi, tetapi juga memperkuat peran keluarga sebagai unit utama dalam pembangunan kesehatan masyarakat. *

Komentar