Dari Luka Kolonial Menuju Masa Depan Kebudayaan

Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq
Penggiat Budaya Sunda Banten

Setiap mendengar nama Anyer, ingatan sebagian orang mungkin langsung terbang ke lagu Antara Anyer dan Jakarta. Ada ombak, pantai, dan kenangan cinta yang seolah tidak pernah kehabisan alasan untuk dinyanyikan. Namun, ketika CNN Indonesia menggagas Kick Off Festival Anyer–Panarukan 3R: Road, Route, Roots, Anyer seperti diminta memainkan peran lain. Bukan lagi semata-mata latar percintaan, melainkan titik awal sebuah jalan yang menyimpan sejarah panjang, termasuk luka kolonial yang tidak boleh dilupakan. Rupanya, Anyer bukan hanya menyimpan kenangan cinta. Ia juga menyimpan pekerjaan rumah sejarah.

Inisiatif tersebut menarik karena mengajak kita menoleh kepada Jalan Raya Pos, jalur bersejarah yang dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels pada awal abad ke-19. Jalan yang menghubungkan Anyer di ujung barat Jawa dengan Panarukan di ujung timur itu bukan sekadar infrastruktur transportasi. Ia merupakan bagian dari strategi pertahanan, administrasi, dan komunikasi pemerintahan kolonial. Kini, lebih dari dua abad kemudian, warisan tersebut hendak dibaca kembali melalui kebudayaan, pariwisata, dan pengembangan ekonomi masyarakat. Sebuah gagasan yang patut disambut, sekaligus layak diperiksa secara kritis.

Pemerintah Kabupaten Serang dan Pemerintah Kabupaten Situbondo telah membangun kerja sama melalui program Anyer–Panarukan 3R. Kesepakatan kedua pemerintah daerah pada Juli 2026 menempatkan koridor bersejarah itu sebagai potensi pengembangan pariwisata, identitas daerah, serta penggerak ekonomi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Serang juga menyebut optimalisasi potensi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai orientasi kerja sama tersebut. Dengan demikian, program ini bukan hanya urusan mengingat masa lalu, melainkan juga upaya memanfaatkan warisan sejarah untuk kepentingan masa kini.

Namun, sebelum terlalu bersemangat membayangkan wisata sejarah yang meriah, barangkali kita perlu mengajukan pertanyaan sederhana: sejarah yang mana yang hendak kita hidupkan? Sejarah yang hanya memperlihatkan kecakapan penguasa membangun jalan, atau sejarah yang juga memberi tempat kepada orang-orang biasa yang harus menanggung beban pembangunannya? Pertanyaan ini penting sebab sejarah sering kali lebih mudah diceritakan melalui nama tokoh besar daripada pengalaman manusia yang tidak meninggalkan prasasti, potret resmi, atau catatan kebesaran.

Jalan Raya Pos dibangun dalam situasi politik ketika pemerintahan kolonial menghadapi ancaman Inggris dan membutuhkan sarana untuk mempercepat mobilitas pasukan, logistik, serta komunikasi antardaerah. Pada 1808, Daendels memerintahkan pembangunan dan pengembangan jalur tersebut dengan melibatkan para penguasa lokal dan pengerahan tenaga penduduk. Dalam pelaksanaannya, sistem kerja wajib menjadi bagian penting dari pembangunan jalan. Berbagai sumber sejarah mencatat adanya penderitaan pekerja dan konsekuensi kemanusiaan yang serius. Karena itu, keberhasilan pembangunan jalan dari sudut pandang administrasi kolonial tidak dapat dipisahkan begitu saja dari persoalan kekuasaan dan beban yang ditanggung penduduk pribumi.

Kita tidak harus membenci jalan itu untuk mengakui sejarah kelam yang menyertainya. Jalan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama berabad-abad, menghubungkan kota, memudahkan perjalanan, dan mendukung kegiatan ekonomi. Banyak ruasnya kemudian berubah, berkembang, atau menjadi bagian dari jaringan jalan modern. Infrastruktur yang semula dibangun untuk kepentingan kolonial memasuki kehidupan masyarakat dengan fungsi yang jauh lebih luas. Di sinilah sejarah menjadi menarik: benda yang sama dapat melayani kepentingan berbeda pada zaman yang berbeda, sementara ingatan tentang asal-usulnya tetap membutuhkan penjelasan.

Karena itu, menghidupkan kembali Jalan Raya Pos tidak berarti menghidupkan kembali romantisme kolonial. Kita tidak sedang hendak memasang karpet merah bagi Daendels, apalagi mengadakan karavan kehormatan untuk menyambut kedatangannya kembali dari masa silam. Yang perlu dihidupkan adalah kesadaran sejarah, termasuk kemampuan untuk membedakan pencapaian teknis dari biaya kemanusiaan yang menyertainya. Sebuah bangsa yang matang tidak harus menghapus peninggalan masa lalu, tetapi juga tidak perlu memolesnya sedemikian rupa hingga luka-lukanya tampak seperti hiasan dinding.

Di sinilah konsep 3R memperoleh relevansinya. Road mengingatkan kita kepada jalan sebagai warisan sejarah dan infrastruktur. Route mengajak kita melihat jalur tersebut sebagai lintasan perjalanan yang dapat menghubungkan berbagai destinasi. Sementara itu, Roots membawa perhatian kepada akar kebudayaan, identitas, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh di sepanjang koridor tersebut. Ketiganya tampak sederhana, tetapi menyimpan tantangan yang tidak sederhana. Jalan bisa diperbaiki dengan anggaran konstruksi. Rute wisata bisa disusun dengan peta dan promosi. Namun, akar kebudayaan tidak bisa tumbuh hanya karena dicantumkan dalam slogan program.

Akar kebudayaan hidup dalam bahasa yang digunakan sehari-hari, cerita yang diwariskan antargenerasi, kesenian yang dipelajari dengan tekun, makanan yang diracik menurut ingatan keluarga, serta kebiasaan masyarakat dalam menyambut tamu dan menyelesaikan persoalan bersama. Ia juga hidup dalam pengetahuan tentang tempat, lingkungan, dan sejarah lokal yang sering kali tidak ditemukan dalam brosur pariwisata. Apabila semua itu hendak diangkat melalui Festival Anyer–Panarukan, masyarakat setempat harus diberi posisi sebagai pemilik cerita, bukan sekadar pengisi panggung.

Bagi Banten, kesempatan ini terasa penting. Anyer bukan hanya nama yang dikenal wisatawan karena pantainya. Ia berada di dalam bentang sejarah dan kebudayaan masyarakat Banten yang memiliki tradisi pesisir, pencak silat, debus, bahasa, kuliner, dan beragam bentuk ekspresi lokal. Pemberitaan mengenai kegiatan budaya di Kecamatan Anyar pada Agustus 2026, misalnya, memperlihatkan keterlibatan berbagai perguruan pencak silat dan kelompok seni debus dalam rangkaian awal Festival Anyer–Panarukan. Itu merupakan petunjuk bahwa kebudayaan lokal dapat menjadi bagian nyata dari pengembangan program, bukan hanya pelengkap dalam acara pembukaan.

Tetapi, tentu saja, satu pertunjukan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa persoalan kebudayaan telah selesai. Kita masih perlu bertanya bagaimana keberlanjutannya, siapa yang memperoleh ruang untuk tampil, bagaimana generasi muda dilibatkan, dan apakah para pelaku seni mendapatkan manfaat yang layak. Tradisi bukan sekadar sesuatu yang dapat dipanggil ketika festival tiba, lalu dipersilakan pulang setelah panggung dibongkar. Jika kebudayaan hendak menjadi akar, ia harus dirawat dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan, regenerasi, ruang berekspresi, dan penghargaan terhadap para pelakunya.

Hal serupa berlaku bagi pariwisata. Mengembangkan Jalan Raya Pos sebagai koridor wisata sejarah memang menawarkan peluang. Wisatawan dapat diajak mengenali situs bersejarah, menikmati bentang alam, mencicipi kuliner, mempelajari kesenian lokal, dan mengunjungi berbagai destinasi di sepanjang jalur. Pemerintah dan pelaku usaha dapat membangun paket perjalanan lintas daerah yang mempertemukan Serang dan Situbondo dengan wilayah-wilayah lain di Pulau Jawa. Namun, keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan atau ramainya pemberitaan media. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah berapa banyak nilai ekonomi yang benar-benar tinggal di tengah masyarakat.

Jangan sampai wisatawan datang, berfoto, membeli tiket, lalu pulang membawa kenangan, sementara masyarakat lokal hanya kebagian tugas membersihkan sampah. Jangan pula sampai sebuah program yang menggunakan nama kebudayaan justru membuat para pelaku budaya tersingkir karena tidak mampu memenuhi selera pasar. Pengembangan wisata harus membuka kesempatan bagi UMKM, pengrajin, pemandu lokal, pengelola destinasi, seniman, dan usaha kecil lainnya. Jika diperlukan, pemerintah dapat menyiapkan pelatihan, pendampingan, akses promosi digital, serta mekanisme kemitraan yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi secara berkelanjutan.

Kita perlu membedakan festival sebagai peristiwa dan festival sebagai proses pembangunan. Peristiwa berlangsung pada tanggal tertentu, memiliki panggung, susunan acara, undangan, dan dokumentasi. Proses pembangunan membutuhkan kerja yang jauh lebih panjang: pemetaan potensi, perawatan situs, penguatan komunitas, penyediaan infrastruktur, pembagian peran antardaerah, serta evaluasi yang terukur. Festival bisa menjadi pintu masuk untuk menggerakkan semua itu, tetapi tidak dapat menggantikannya. Sebab, sebuah acara mungkin selesai dalam sehari, sedangkan persoalan kebudayaan dan kesejahteraan masyarakat tidak mengenal jadwal penutupan.

Karena itu, inisiatif CNN Indonesia patut dibaca sebagai kesempatan untuk memperluas percakapan publik mengenai sejarah dan masa depan Jalan Raya Pos. Media memiliki kemampuan mempertemukan perhatian masyarakat, mengangkat kisah lokal ke ruang nasional, dan menghubungkan berbagai pihak yang selama ini bekerja sendiri-sendiri. Namun, media juga memikul tanggung jawab untuk tidak berhenti pada kemeriahan seremoni. Liputan yang baik seharusnya memberi ruang kepada sejarawan, budayawan, masyarakat di sepanjang jalur, pelaku usaha kecil, dan kelompok yang selama ini jarang mendapat kesempatan berbicara. Dengan begitu, sejarah tidak hanya tampil sebagai latar belakang yang indah, tetapi menjadi bahan pembelajaran publik.

Saya juga tertarik pada kemungkinan bahwa program ini dapat membangun semacam ingatan kolektif lintas daerah. Selama ini, kita terbiasa mengenal wilayah administratif sebagai batas kewenangan dan anggaran. Kabupaten Serang memiliki programnya sendiri, demikian pula Situbondo. Jalan Raya Pos menawarkan cara pandang berbeda: sebuah jalur sejarah yang menghubungkan banyak masyarakat dan melampaui batas administrasi. Bila dikelola dengan sungguh-sungguh, kerja sama tersebut dapat mendorong pertukaran pengetahuan, promosi destinasi, penelitian sejarah, dan kegiatan kebudayaan lintas wilayah. Jalan yang dahulu menghubungkan pusat-pusat kekuasaan dapat ditafsirkan ulang sebagai penghubung komunitas.

Tentu saja, kita tidak boleh menganggap bahwa semua persoalan akan selesai hanya dengan menciptakan sebuah merek program. Nama Road, Route, Roots terdengar ringkas dan mudah diingat, tetapi kekuatan sebuah gagasan akhirnya ditentukan oleh apa yang dikerjakan di lapangan. Apakah ada rencana jangka panjang? Apakah situs sejarah akan dipetakan dan dirawat? Apakah komunitas lokal dilibatkan dalam pengambilan keputusan? Apakah dampak ekonomi dievaluasi? Apakah narasi sejarah disusun berdasarkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk ketidakpercayaan, melainkan cara memastikan bahwa antusiasme awal memiliki arah yang jelas.

Bahkan, ada pekerjaan sejarah yang lebih khusus dan tidak boleh diabaikan: memastikan jalur mana yang benar-benar merupakan bagian dari Jalan Raya Pos, bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu, dan situs mana yang masih menyimpan bukti sejarah. Sebutan Jalan Raya Pos dan jaringan jalan modern tidak selalu dapat dipertukarkan begitu saja. Sebagian ruas telah berubah, sementara ingatan masyarakat mengenai jalur lama dapat berbeda-beda. Penelitian sejarah, dokumentasi arsip, kajian arkeologi, dan pengetahuan lokal perlu dipertemukan agar pengembangan koridor ini tidak dibangun di atas legenda yang telanjur dianggap sebagai fakta.

Yang paling menarik dari Jalan Raya Pos bukan hanya panjangnya, bukan pula nama besar tokoh yang memerintahkan pembangunannya. Yang menarik adalah kemampuannya memperlihatkan bahwa sejarah selalu memiliki lebih dari satu sisi. Ada kepentingan penguasa, ada tenaga rakyat, ada perubahan fungsi, dan ada kehidupan masyarakat yang terus bergerak setelah proyek awalnya selesai. Jalan itu tidak lagi sepenuhnya berada dalam dunia yang melahirkannya. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat yang berbeda, dengan kebutuhan dan harapan yang juga berbeda.

Maka, jika Festival Anyer–Panarukan 3R hendak menjadi lebih dari sekadar kegiatan promosi, ia perlu membantu kita memahami masa lalu secara jujur, merawat kebudayaan secara berkelanjutan, dan membangun ekonomi yang memberi manfaat nyata kepada masyarakat. Road tanpa Roots berisiko menjadikan kebudayaan sekadar komoditas. Route tanpa keberpihakan kepada masyarakat dapat membuat keuntungan perjalanan hanya dinikmati segelintir pihak. Sebaliknya, Roots tanpa ruang dan kesempatan ekonomi juga dapat membuat tradisi kehilangan daya hidupnya. Ketiganya harus berjalan bersama, saling menguatkan, dan diuji melalui hasil yang dapat dirasakan.

Inilah cara terbaik memperlakukan warisan sejarah: bukan dengan membekukannya sebagai benda mati, bukan pula dengan menjualnya tanpa memahami maknanya. Kita merawatnya sebagai ruang belajar, tempat masyarakat mengenali asal-usulnya sekaligus merancang masa depannya. Kita tidak dapat mengubah cara jalan itu dibangun pada dua abad silam. Namun, kita dapat menentukan cara memperlakukannya hari ini.

Dan ketika nama Anyer kembali terdengar, biarlah orang mengingat lebih dari sekadar lagu cinta. Biarlah mereka juga mengenali sebuah jalan, sejarah manusia yang menyertainya, kebudayaan yang tumbuh di sepanjang lintasannya, dan tanggung jawab kita untuk meneruskan warisan itu secara lebih adil. Jalan yang panjang tidak otomatis membawa kita ke masa depan yang lebih baik. Ia baru bermakna ketika orang-orang yang hidup di sepanjangnya ikut menentukan arah perjalanan. Jalan boleh menjadi warisan masa lalu, tetapi maknanya adalah pekerjaan kita hari ini. Wallahualam.*

Komentar