BSP 2025: AWG Kuatkan Literasi Palestina Melalui Bedah Buku dan Diskusi

BANTEN72 – Aqsa Working Group (AWG) menggelar kegiatan yang berfokus pada penguatan literasi Palestina dan Masjid Al-Aqsa dalam rangkaian Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2025 di Aula HB Jassin, Perpustakaan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, beberapa waktu lalu. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini menghadirkan serangkaian expo, bedah buku, pemutaran film dan talkshow untuk meneguhkan semangat literasi dan perjuangan kemanusiaan bagi Palestina.

Ketua BSP 2025 Nur Hadis menegaskan, literasi menjadi kunci dalam memahami perjuangan bangsa Palestina secara utuh.”Literasi Palestina bukan sekadar pengetahuan, tapi kesadaran. Masyarakat Indonesia perlu memahami akar sejarah, konteks kemanusiaan dan perjuangan bangsa Palestina secara utuh supaya solidaritas tidak hanya sebatas emosi, tetapi tumbuh menjadi aksi nyata berterusan,” ujarnya.

Nur Hadis menambahkan, melalui expo, bedah buku dan talkshow, BSP AWG berupaya menghubungkan pengetahuan akademik, pengalaman lapangan dan narasi kemanusiaan agar masyarakat Indonesia memiliki referensi yang benar dan komprehensif untuk melawan propaganda Zionis.

Baca juga:  Presiden Serukan BUMN Tumbuh sebagai Korporasi Modern dan Bersih

“Itulah mengapa kita libatkan secara langsung mahasiswa, termasuk dari STAI Al-Fatah dan berbagai BEM perguruan tinggi, sebagai simbol generasi muda yang punya empati, rasa keadilan dan kepedulian global,” ujarnya.

“Harapannya, BSP menjadi inspirasi agar gerakan literasi Palestina terus hidup di sekolah, kampus, komunitas dan ruang publik Indonesia yang berkomitmen sesuai amanah konstitusi membantu Palestina,” ucapnya.

Dalam buku “Diplomasi Bela Palestina dan Minoritas Muslim di Berbagai Negara di Dunia” Hadi Susiono Panduk, satu satunya penulis Banten yang tulisannya dimuat dalam buku tersebut menjabarkan, kerumitan konflik Israel-Palestina sejatinya berawal dari langkah politis Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour tahun 1917 yang menulis surat kepada Lord Rothschild agar bangsa Yahudi diberikan semacam “National Home for the Jewish People” – rumah nasional bagi orang-orang Yahudi – di tanah Palestinayang pada saat itu merupakan wilayah Utsmaniyah dengan populasi Yahudi minoritas. Deklarasi Balfour disambut suka cita oleh Lord Rothschild, pemimpin komunitas minoritas Yahudi Inggris dan surat tersebut disampaikan kepada Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia.

Baca juga:  TNI-Polri Tunjukkan Ketegasan Jaga Kedaulatan dan Ketertiban Umum

Dalam menanggapi buku “Diplomasi Bela Palestina dan Minoritas Muslim di Berbagai Negara di Dunia” Hadi yang juga sebagai pengurus MUI Kabupaten Lebak, Wakil Rais Syuriyah PCNU Lebak dan Dewan Pakar ICMI Orwil Banten mengatakan, sebagai salah satu penulis buku berjudul “Diplomasi Bela Palestina dan Minoritas Muslim di Berbagai Negara di Dunia” yang diinisiasi MUI dan Baznas serta ditulis oleh berbagai kalangan di Indonesia mulai dari para diplomat, cendekiawan, pemikir Muslim, ulama, jurnalis dan aktivis, saya menilai bahwa buku setebal 548 halaman tersebut memberikan perspektif baru dan holistic approach, pendekatan menyeluruh terkait perjuangan bangsa Palestina dalam mempertahankan tanah air mereka melawan kolonialisme gaya baru, yakni zionisme Israel.

Baca juga:  Mengupas Tiongkok dari Sosial, Sejarah, Seni, Budaya Hingga Politik

“Jangan tinggalkan bangsa Palestina sendirian, mari kita secara konsisten merajut persatuan dunia menuju negara Palestina Merdeka, seperti judul buku yang saya donasikan untuk perjuangan bangsa Palestina,” ucap Hadi seorang kolumnis yang sering disapa Gus Hadi atau ada juga yang menyapa dengan panggilan Buya. *

Komentar