BPS Catat Ekonomi Indonesia Dinilai Resilien

BANTEN72 – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal III 2026. Hasil tersebut memperlihatkan perekonomian nasional masih mampu mempertahankan pertumbuhan positif di tengah dinamika ekonomi global. Industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi menjadi sejumlah sektor yang memberikan kontribusi penting, sementara pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar 5,5 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut mengalami peningkatan dibandingkan kuartal II 2026 yang sebesar 5,29 persen dan kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen. Meski demikian, capaian tersebut masih berada di bawah pertumbuhan kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen.

“Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, perekonomian Indonesia pada kuartal III 2026 berhasil mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen,” ungkap Edy.

BPS turut mencatat nilai produk domestik bruto (PDB) berdasarkan harga berlaku sebesar Rp6.741 triliun. Sementara itu, berdasarkan harga konstan, nilainya mencapai Rp3.633,2 triliun. Seluruh lapangan usaha menunjukkan pertumbuhan positif dengan lima sektor utama menyumbang sekitar 65,31 persen terhadap keseluruhan PDB nasional.

Edy menyebutkan industri pengolahan memiliki kontribusi terbesar sebesar 19,22 persen, diikuti pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, dan pertambangan 9,19 persen. Dari sisi pertumbuhan, perdagangan meningkat 7,14 persen, konstruksi 6,42 persen, serta industri pengolahan 5,87 persen. Adapun pertanian tumbuh 0,46 persen dan pertambangan 0,91 persen.

Sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,22 persen akibat meningkatnya hunian hotel serta aktivitas konsumsi di restoran. Berikutnya, jasa keuangan tumbuh 8,47 persen dan jasa lainnya mencapai 8,32 persen berkat peningkatan aktivitas pariwisata.

Sektor perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, informasi dan komunikasi 0,49 poin persentase, sedangkan sektor lainnya berkontribusi 2,22 poin persentase.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap tumbuh sekitar 5,5 persen. Proyeksi tersebut didukung aktivitas domestik dan APBN yang berfungsi menjaga stabilitas ketika terjadi tekanan ekonomi.

“Melalui kesinambungan kebijakan dan terjaganya momentum kegiatan ekonomi, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,5 persen,” tutur Suahasil.

Pemerintah akan terus menjaga koordinasi kebijakan dan memperkuat sektor produktif agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan. Dengan demikian, ketahanan ekonomi nasional diharapkan mampu memberikan manfaat lebih luas melalui peningkatan kesempatan kerja, aktivitas usaha, dan kesejahteraan masyarakat.*

Komentar