BANTEN72 – Berawal dari dua karya M. Balfas (1921-1975) di rak buku Poestaka Betawi, lahir gagasan Chairil Gibran Ramadhan selaku pendiri Betawi Institute untuk kembali menghadirkan buku fenomenal karya sastrawan berdarah Arab-Betawi dari kampung Cawang di Jakarta Timur, M. Balfas. Penerbit Padasan akan merealisasikan gagasan.
Kedua karya tersebut adalah Anak-Anak Kampung Djambu (Pembangunan Jakarta, 1956) dan Suling Emas (Djambatan, 1957), dalam satu buku. Ilustrasi isi dari kedua buku akan ditampilkan. “Sebagai bentuk penghormatan terhadap illustrator dan tidak melupakan nama mereka. Seluruh nama yang terlibat pada buku edisi lama, disebutkan pada satu halaman khusus di depan.” ucap CGR, pada Selasa, 27102026, bertepatan dengan HUT ke-15 Penerbit Padasan.
M. Balfas merupakan tokoh Sastrawan Angkatan 45. Ia berkarib dengan Chairil Anwar. Pada 1953, bersama HB Jassin dan Sujati SA menerbitkan majalah sastra Kisah. Cerpen karyanya tersebar di Star Weekly, Lenita, Zenith, Orientatie, Gema Suasana, Kisah.
Langkah Betawi Institute ini merupakan rangkaian menyambut “Lima Abad Jakarta” pada 2027 dan wujud gerakan “Bela Betawi Liwat Literasi” yang dicanangkan Oktober 2026 bertepatan dengan Bukan Bahasa. . Sebelumnya konsep ini ditawarkan CGR kepada para tokoh mapan Betawi, para guru besar dalam perkumpulan Betawi Academia, para ketua lembaga kebetawian, namun tidak ada yang menanggapi.
Gerakan ini, tahun depan, akan menghadirkan 10 buku bertema Betawi, Batavia, Jakarta. Nantinya, meski memuat logo Lima Abad Jakarta, namun 10 buku ini tidak terbit atas dukungan dana dari Pemprov DKI Jakarta sebagai bagian rangkaian proyek besar penerbitan buku-buku seputar Betawi, Batavia, Jakarta terkait peringatan Lima Abad Jakarta.
Semua buku akan terbit secara mandiri meski per judul hanya akan dicetak 50 judul. Saat ditanya tentang kemungkinan adanya sosok mapan atau lembaga swasta yang menjadi sponsor pencetakan, CGR mengatakan sudah tidak berfikir ke arah sana mengingat perjalanan selama 15 tahun berjuang untuk buku-buku bertema Betawi, Cina Betawi, Tionghoa di Batavia dan Nusantara, hanya membuang waktu, tenaga, biaya. Menurutnya, orang Betawi dan Cina tidak tertarik pada pengembangan literasi meski membawa sejarah dan budaya moyang. Mereka punya sejuta dalih dengan tujuan jelas: Uangnya tidak keluar. Mereka berharap suku/ras lainlah yang membiayai. Mereka sendiri bersedia keluarkan uang untuk pesta-pesta dan acara keriaan.” Bagaimana dengan bangsa Arab? CGR hanya tersenyum. *





Komentar