BANTEN72 — Pada 4 Oktober – 24 November 2026, di Taman Ismail Marzuki, Cikini, digelar Jakarta Biennale 2026. Ajang dua tahunan sejak tahun 1974 sebagai gawe Pemprov DKI Jakarta ini menampilkan pameran seni rupa kontemporer dan bincang seni.
Dari serangkaian acara, disebutkan pada Sabtu, 15:00-17:00 WIB, 24 Oktober 2026 digelar bincang tentang Ismail Marzuki di Gedung Trisno Soemardjo, dengan narasumber Paola Pietronave, PhD (peneliti asal Italia), David Tarigan (aktivis musik), dan Chairil Gibran Ramadhan/CGR (Budayawan Betawi). Acara terfokus pada rencana pembuatan film dokumenter berjudul Marzuki’s Violin karya Paola.
Panitia tampaknya tidak melakukan riset memadai sehingga tidak mengetahui bahwa seorang peneliti sejarah sosial, sastrawan, dan budayawan Betawi, bernama Chairil Gibran Ramadhan, rajin ngongkoin sosok Ismail Marzuki. Ia pemegang hak tertulis berkekuatan hukum langsung dari Rachmi Aziah (anak Ismail Marzuki) yang juga konsultan skenario biopic Ismail Marzuki. Pada 2017, Rachmi bahkan memberi amanah kepada CGR untuk memperjuangkan berdirinya Museum Ismail Marzuki yang dijanjikan Gubernur Sutiyoso sejak 1997.
Namun CGR selaku periset Ismail Marzuki seperti Harry A. Poeze menjadi peneliti Tan Malaka, mengaku tidak terkejut. “Orang Indonesia umumnya sangat kagum pada ras kulit putih. Apapun yang datang dari mereka dianggap selalu lebih, di atas segalanya. Bentuk paling sederhananya meminta foto bareng bule tidak kenal dan tidak terkenal di tempat wisata, seakan mereka makhluk istimewa dari planet lain. Bila bekerja pun mereka dibayar jauh lebih besar.”
Disbud DKI dan Jakpro
Sejak 2011 hingga 2017, CGR seorang diri dan biaya sendiri menjadi peneliti Ismail Marzuki terkait penulisan skenario biopic Ismail Marzuki. Skenario rampung pada 2018 dibantu Enison Sinaro (sutradara film senior) dan Laora Arkeman (penulis) sebagai supervisor, keduanya dari IKJ. Draf ke-8, dibukukan pada 2020 dengan ISBN: 978-602-1244-03-6. Sebelumnya pada 2019, CGR mengajukan pendanaan pembuatan film dokumenter Ismail Marzuki kepada Disbud DKI Jakarta, namun setelah semua proses dilalui, dikatakan memiliki kurang syarat formal (?!).
Tahun 2025, Iwan Piliang dari PPFN membuka pintu bagi terwujudnya biopic Ismail Marzuki, dengan catatan: Pihak Padasan Pictures harus mencari lembaga dana karena Danantara tidak bisa turut berperan.
Tidak menyerah, CGR menggelar hari pencanangan Mei Bulan Ismail Marzuki pada 12 Mei 2026 untuk mendorong Kemenbud melirik skenarionya. Jaya Suprana pendiri MURI, membantu penuh acara tersebut di markas MURI. Neno Warisman (tenaga ahli Kemenbud), turut hadir sebagai pembicara.
Maka Jakarta Biennale 2027 yang didukung Disbud DKI Jakarta dan JAK Pro, nyata telah mengabaikan kerja keras seorang anak bangsa yang gigih mengusahakan hadirnya biopic Ismail Marzuki, yang sejak awal tidak mendapat dukungan para tokoh dan lembaga-lembaga dari etnis Ismail Marzuki berasal, termasuk Gubernur DKI, Dinas Kebudayaan, dan Kementerian Kebudayaan. Skenario biopic Ismail Marzuki karya CGR yang sepantasnya dibahas di TIM, pada Jakarta Biennale 2026, ironisnya hanya menjadikan penulisnya sebagai pelengkap acara. Honorarium pembicara pun dikatakan panitia: “Kita cuma bisa ganti ongkos transport, itu pun tidak seberapa.”
Akibat hal inilah, penulis yang getol menulis ikhwan Betawi, Batavia, Jakarta itu, memutuskan untuk tidak tampil pada acara yang seakan prestisius itu. Sudah lewat baginya masa “kenyang nama” dengan iming-iming nama besar event dan tempat tampil. *





Komentar