Di Balik Bidak-bidak Catur, Wagub Banten Dimyati: Jangan Anggap Lemah yang Kecil, Pion Bisa Tumbagkan “Raja” 

BANTEN72– Riuh rendah suara pecatur memenuhi arena turnamen saat satu per satu bidak digerakkan dengan penuh perhitungan.

Oleh karena itu, dalam melangkah jangan sekali menganggap lemah yang kecil, jistru bidak pion bisa mematikan dan menumbangkan raja.

Di antara ketegangan itu, Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah berdiri mengamati , seolah membaca lebih dari sekadar permainan di atas papan hitam-putih.

Bagi Dimyati, catur bukan hanya soal menang atau kalah. Ia melihatnya sebagai cerminan kehidupan tentang kesabaran, strategi, dan kecerdasan membaca peluang.

“Catur itu melatih kita untuk tidak terburu-buru. Semua langkah harus dipikirkan matang. Kadang yang kecil justru menentukan segalanya,” ujarnya.

Baca juga:  Ratusan Off-Roader Motor Trail Meriahkan HUT RI di Lebak

Di papan catur, tidak ada jabatan. Tidak ada pula privilese (keistimewaan).  Seorang pemula bisa menantang yang berpengalaman, bahkan mengalahkannya. Itulah yang membuat catur terasa adil dan sekaligus menantang.

Dimyati mencontohkan, dalam permainan, seperti bidak pion yang kerap dianggap lemah justru bisa menjadi benteng terakhir bagi raja. Bahkan, dalam situasi tertentu, pion bisa menjelma menjadi ancaman mematikan.

Di situlah letak filosofi catur: kekuatan bukan selalu soal siapa yang paling besar, tetapi siapa yang paling cermat membaca langkah.

Lebih jauh, Dimyati mengaitkan permainan ini dengan dinamika kehidupan, termasuk dunia politik. Dalam pandangannya, catur mengajarkan pentingnya visi jangka panjang, kesabaran dalam menunggu momentum, serta kecerdasan dalam memanfaatkan peluang.

Baca juga:  Taktakan Nyaman Di Puncak Klasemen Sementara

“Tidak bisa berpikir pendek. Semua harus dirancang. Seorang pemimpin harus kuat dan bijak, tapi juga tidak bisa berdiri sendiri,” kata Dimyati.

Turnamen catur yang digelar kali ini menjadi bukti bahwa permainan klasik ini tetap hidup di tengah masyarakat. Ratusan pecatur dari berbagai daerah di Banten berkumpul, membawa semangat kompetisi sekaligus kebersamaan.

Suasana semakin hangat ketika Dimyati tak hanya membuka acara, tetapi juga turun langsung ke arena. Ia berhadapan dengan H. Enung, pemilik wisata Curug Goong, dalam laga persahabatan yang disambut sorak antusias penonton.

Baca juga:  Liga Futsal Kota Serang, Kualitas Pemain Futsal Meningkat

Langkah demi langkah yang dimainkan keduanya menjadi tontonan menarik—bukan sekadar pertandingan, tetapi juga simbol bahwa siapa pun bisa duduk setara di depan papan catur.

Ketua panitia, Emus Mustagfirin, menyebut turnamen ini bukan hanya soal adu kemampuan, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi antarpecatur di Banten.

Di balik setiap langkah bidak, ada cerita tentang strategi, keberanian, dan harapan.

Ia menyebut  seperti yang diyakini Wagub Dimyati, bahwa  catur bukan sekadar permainan, namun  latihan berpikir, latihan bersabar, dan seni untuk menang dengan cara yang cerdas. (Bt72)***

Komentar